Di hari Jum'at yang cerah, di sebuah taman-taman kanak-kanak, seorang ibu guru meminta seorang anak didik menyanyikan sebuah lagu.
"Nina, ayo nyanyikan lagu kesukaanmu," pinta bu guru. Dan Nina berdiri lalu menyanyikan lagu kesukaannya, "Nina Bobok".
"Nina bobok, oh Nina bobok. Kalau tidak bobok digigit nyamuk."
Setelah mengulangi dua kali lirik di atas, Nina pun duduk di kursinya lagi. Kemudian bu guru meminta anak-anak bertepuk tangan. Setelah anak-anak bertepuk tangan, bu guru berkata, "Andi, sekarang giliran kamu menyanyikan lagu kesukaannmu."
Andi lalu menjawab, "Bu, aku tidak punya lagu kesukaan."
Lalu bu guru membalas begini, "Ya sudah kamu bisa menyanyilan lagu yang dinyanyikan Nina."
Kemudian Andi menyanyikan lagu "Nina Bobok".
"Nina bobok, oh Nina bobok. Kalau tidak bobok bukanlah Nina."
Mendengar liriknya seperti itu, teman-temannya tertawa sambil bertepuk tangan. Dan bu guru pun menjadi bertanya, "Liriknya kok jadi gitu?"
Andi menjawab dengan santainya, "Kan aku bukan Nina. Aku kan Andi."
Mendengar ini, bu guru menjadi diam terpaku.
Beberapa bulan kemudian, Nina dan Andi sudah berada di sekolah dasar, di ruang kelas yang sama. Kini Andi mendapatkan giliran pertama menyanyikan lagu "Balonku Ada Lima."
"Balonku ada lima, meletus semunya. Dor, habis."
Mendengar seperti ini, teman-temannya tertawa termasuk juga Nina. Bu guru buru-buru bertanya, "Mengapa jadi gitu lagunya?"
Andi menjawab, "Iya gapapa, kan bu. Nanti bisa beli lagi balonnya".
Bu guru lalu menasihatinya, "Kalau begitu terus uangnya habis dong. Mending uangnya ditabung ya nak. Karena itu, jika sudah ada yang meletus, yang lain dijaga biar tidak meletus."
"Nggak ah bu. Kan orang tuaku kaya", ujar Andi.
Bu guru lalu menimpali jawaban Andi, "Gini Andi, kita sejak kecil harus belajar hemat."
Andi pun menyergah, "Kalau hemat, mengapa harus beli lima? Hayo?"
Bu gurunya menjadi diam "terpalu".
Sumber gambar: youtube.com
0 komentar:
Posting Komentar