Tampilkan postingan dengan label pekerjaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pekerjaan. Tampilkan semua postingan

10 Januari, 2026

, ,

Socrates Ketemu Seorang Penganggur

Sore ini Socrates (kita sebut Mbah Tes), ketemu seorang pengganggur dan bertanya-jawab soal pengangguran. 

Socrates: "Salam, anak muda. Matahari sudah tinggi, dan aku melihat semua orang di pasar ini sibuk dengan urusan mereka. Si tukang besi berkeringat menempa logam, si pedagang berteriak menawarkan buah zaitun. Namun engkau duduk di sini, diam seperti patung di kuil. Gerangan apa yang sedang kau kerjakan?"

Penganggur: (Menoleh dengan sedikit kesal) "Aku sedang berpikir, Mbah Tes. Itu juga sebuah pekerjaan, bukan?"

Socrates: "Tentu, berpikir adalah pekerjaan yang mulia. Namun, biasanya pikiran membutuhkan bahan bakar dari perut yang kenyang. Apakah berpikir memberimu makan hari ini? Atau apakah engkau memiliki pekerjaan lain yang menghasilkan roti?

Penganggur: (Menghela napas) "Tidak, Mbah Tes. Aku tidak punya pekerjaan. Aku seorang penganggur."

Socrates: "Ah, sebuah kondisi yang menarik. Bantulah aku memahami ini. Apakah engkau menganggur karena di Athena ini sudah tidak ada lagi tugas yang perlu diselesaikan? Apakah semua jalan sudah dibangun, semua baju sudah ditenun, dan semua ladang sudah dipanen?"

Penganggur: "Tentu saja tidak. Masih banyak pekerjaan kasar di luar sana. Tapi tidak ada pekerjaan yang layak untukku."

Socrates: "Layak? Jelaskan padaku. Apakah maksudmu pekerjaan yang sesuai dengan keahlian dan jiwamu?"

Penganggur: "Tepat sekali. Aku orang berpendidikan, Mbah Tes. Aku tidak mungkin menghabiskan hariku mengangkut batu di pelabuhan seperti keledai. Itu tidak sesuai dengan diriku."

Socrates: "Jadi, masalahnya bukan "tidak ada pekerjaan", melainkan tidak ada pekerjaan yang kau sukai. Tapi katakan padaku, Argos, manakah yang lebih baik bagi seseorang: melakukan pekerjaan yang tidak ia sukai namun bisa mandiri, atau menyukai ketidakberdayaan karena menunggu kesempurnaan?"

Penganggur: "Itu bukan pilihan yang adil. Masalahnya bukan hanya jenis pekerjaannya, tapi imbalannya. Rata-rata penghasilan yang ditawarkan sangat rendah. Mereka ingin aku bekerja keras seharian tapi membayarku dengan kepingan tembaga yang hanya cukup untuk makan sekali. Itu penghinaan."

Socrates: "Hmmm. Mari kita uji ini. Jika kau ditawari sebuah pekerjaan dengan upah rendah, kau menolaknya karena itu tidak cukup. Tetapi sekarang, saat kau tidak bekerja sama sekali, berapakah upah yang kau terima?"

Penganggur: "Nol besar."

Socrates: "Jadi, menurut logikamu, menerima upah kecil adalah penghinaan, tetapi menerima nol besar—dan mungkin bergantung pada orang lain untuk makan—adalah kehormatan? Apakah kelaparan yang bermartabat lebih baik daripada perut kenyang yang didapat dari upah rendah?"

Penganggur: (Mulai gelisah) "Bukan begitu... Tapi ini juga soal harga diri, Mbah Tes! Aku tidak mau bekerja di bawah perintah orang lain. Aku melihat teman-temanku yang bekerja; mereka diperintah ke sana kemari oleh majikan yang seringkali lebih bodoh dari mereka. Aku tidak mau menghamba. Aku ingin bebas."

Socrates: "Kebebasan! Kata yang indah. Mari kita lihat kebebasanmu saat ini. Kau bilang kau tidak mau diperintah oleh majikan manusia. Tetapi, bukankah saat ini kau sedang diperintah oleh majikan lain yang lebih kejam?"

Penganggur: "Siapa majikan itu? Aku tidak melihatnya."

Socrates: "Majikan itu bernama Kebutuhan dan Ketergantungan. Saat perutmu lapar, bukankah ia memerintahmu untuk mencari makan? Jika kau tidak punya uang sendiri, bukankah kau harus meminta pada orang tuamu atau temanmu? Dan bukankah orang yang harus meminta-minta itu adalah hamba dari mereka yang memberi?"

Penganggur: (Terdiam cukup lama, wajahnya memerah) "Kau memojokkanku, orang tua."

Socrates: "Aku tidak memojokkanmu, sahabatku. Aku hanya meletakkan cermin di depan alasan-alasanmu."

Penganggur: "Baiklah! Mungkin... mungkin kau benar soal itu. Tapi masih ada sesuatu yang menahanku. Rasanya berat sekali untuk memulai."

Socrates: "Nah, sekarang kita mendekati kebenaran yang bersembunyi di balik batu. Tadi kau bilang alasannya ada di luar dirimu: pekerjaan tidak cocok, upah rendah, majikan yang buruk. Tetapi mungkinkah, dan aku bertanya ini dengan tulus, bahwa alasannya ada di dalam dirimu? Mungkinkah ada rasa enggan untuk bersusah payah? Sebuah rasa cinta yang berlebihan pada kenyamanan duduk di bawah pohon ini? Apakah mungkin, bahwa kau sebenarnya... malas?"

Penganggur: (Marah) "Berani sekali kau! Aku bukan pemalas! Aku hanya punya standar yang tinggi!"

Socrates: "Jangan marah dulu. Jika standar tinggi itu membuatmu tetap lapar dan tidak produktif, apa bedanya standar tinggi itu dengan kemalasan yang terbungkus jubah kesombongan? Bukankah orang malas seringkali adalah orang yang paling pandai menciptakan alasan cerdas mengapa mereka tidak perlu melakukan apa-apa?"

Penganggur: (Kemarahannya surut menjadi kebingungan) "Aku... aku tidak tahu harus menjawab apa, Mbah Tes. Semua alasanku tadi terasa masuk akal sebelum kau datang. Sekarang, semuanya terdengar seperti topeng."

Socrates: "Kebingungan itu bagus, kawan. Itu tanda bahwa pikiranmu mulai bekerja lagi setelah lama menganggur. Mungkin pekerjaan pertama yang paling layak untukmu saat ini bukanlah membangun jembatan atau berdagang, melainkan meruntuhkan tembok kesombongan di dalam dirimu sendiri, dan mulai menerima bahwa tangan yang kotor karena kerja lebih mulia daripada tangan yang bersih karena diam."

Agora Athena, 10 Januari 2026
Ajun Pujang Anom

02 Maret, 2022

Modal Jadi Guru Cuma Dua, Keturunan dan Kepepet

Sebagian besar guru yang saya temui, ternyata adalah keturunan dari guru. Sehingga saya dapat berasumsi, bahwa menjadi guru merupakan sebuah cara menjaga warisan leluhur. Nasab yang tak boleh putus atau lekang, meski diupah tak masuk akal.

Tentu ada yang tak sependapat dengan asumsi saya. Dan ini sah-sah saja. Tapi meskipun begitu, punyakah bukti otentik mereka ini? Semacam hasil survey atau pendataan. Jika tidak, ya sama saja seperti saya. Cuma bedanya, saya sudah "mensahihkan" pendapat saya lewat pertanyaan dan pengamatan secara langsung.

Dengan begitu, minimal saya tidak asal jeplak. Walau bisa dibilang, tidak terdokumentasi secara ilmiah. Ini bukan apologi atau ngeles lho. Sebab pendapat tentang hal apapun, harusnya diuji kevalidannya. Sehingga tidak tersungkur ke dalam kubangan debat yang tak berujung pangkal.

Wah bosonya kok terlampau puitis? Wes koyok gitulah. Pokoknya sesuatu yang terlontar dari mulut kita, sedapatnya dipertanggungjawabkan. Baik secara akademik maupun etik. Lah keterusan ngomong ginian. Piye tho kih? Kok geting aku.

Ya sudah kita akhiri perkataan yang ndakik-ndakik tadi. Sekarang kita kembali ke topik bahasan. Jika memang sebagian besar, tentu ada sebagian kecil dong? Yup betul sekali. Yang sebagian kecil itu, isinya sebagian besar berasal dari faktor kepepet. Dan ini jangan dibantah lagi. Sebab perolehan datanya juga sebelas-dua belas dengan metode yang digunakan pada hal sebelumnya.

Mengapa kepepet menjadi faktor pencetus orang menjatuhkan pilihan pada profesi guru? Karena ketika tak ada kesempatan atau lowongan kerja yang dapat dimasuki, menjadi guru adalah pilihan rasional. Kerasionalannya ini jika dibedah, akan terlihat seperti ini. Gaji gede, tunjangan lumayan, kerjaan cuma ngecuwes, dan kalau sudah senior bisa nge-bully junior dengan bebas tanpa terjerat hukum.

"Ooo berarti tidak majunya pendidikan di Indonesia, gegara ini dong?" Soal ini, bukan kapasitas saya untuk menjawab, meskipun didesak terus. Kalaupun akhirnya mau menjawab, paling-paling jawaban saya tidak jauh dari ungkapan ini, "Kok tanya saya?"

Sumber gambar: etsy.com
NB: Tulisan ini pernah saya posting di beberapa grup WhatsApp, dengan judul "Keturunan vs Kepepet". Pada tanggal 23 Januari 2022.