Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

03 Januari, 2026

, ,

Socrates Ketemu Seorang Guru


Siang ini Socrates (kita sebut Mbah Tes), ketemu seorang guru dan bertanya-jawab soal nilai atau skor. 

Socrates: (Melihat seorang guru yang sedang memeriksa tumpukan lembar kertas ujian) "Salam, wahai kawan pendidik. Apa gerangan yang sedang kau lakukan dengan begitu seriusnya?"

Guru: "Salam, Mbah Tes. Aku sedang menilai pekerjaan murid-muridku. Ini adalah bagian penting dari pekerjaanku: memberikan skor atau nilai pada usaha mereka."

Socrates: "Nilai? Skor? Jelaskanlah padaku yang buta pengetahuan ini, apa itu "nilai" dan apa gunanya? Apakah itu semacam ramuan ajaib yang membuat mereka lebih bijaksana?"

Guru: "Nilai adalah ukuran. Ia menunjukkan seberapa baik seorang murid memahami materi pelajaran. Ia mengukur pengetahuan mereka, kerja keras mereka, dan kemampuan mereka. Dengan nilai ini, kami tahu siapa yang berhasil dan siapa yang perlu bantuan lebih."

Socrates: "Menarik. Jadi, nilai itu seperti timbangan untuk jiwa dan pikiran? Apakah angka-angka itu benar-benar menunjukkan seberapa "tahu" seseorang?"

Guru: "Tentu saja. Seorang murid yang mendapat nilai sempurna, misalnya, berarti ia menguasai materinya dengan baik. Ia pantas dihargai."

Socrates: "Hmmm. Mari kita bayangkan dua orang murid. Murid pertama menghabiskan waktu berjam-jam mempelajari sesuatu yang ia benci, hanya untuk mendapatkan nilai sempurna. Ia menghafal setiap kata, namun tidak mencintai prosesnya, dan mungkin melupakannya seminggu kemudian. Murid kedua mencintai pelajaran tersebut, menyelaminya, berdebat dengannya, namun karena ia sering melamun dan salah dalam beberapa detail, ia mendapat nilai pas-pasan. Manakah yang menurutmu lebih "tahu"?"

Guru: (Terpikir sejenak) "Secara angka, murid pertama. Tapi secara pemahaman... mungkin yang kedua."

Socrates: "Jadi, nilai itu tidak selalu menunjukkan pemahaman sejati? Bukankah itu berarti nilai terkadang menipu kita? Apakah nilai itu mengukur cinta seseorang pada ilmu, atau hanya kepatuhan pada aturan?"

Guru: "Itu pertanyaan yang sulit. Kami berharap nilai mendorong mereka untuk belajar. Nilai juga memotivasi. Murid ingin mendapat nilai bagus."

Socrates: "Motivasi? Apakah motivasi untuk mendapat angka yang tinggi sama dengan motivasi untuk mencari kebenaran? Bukankah terkadang, demi angka itu, seseorang akan berusaha "terlihat pintar" alih-alih "menjadi pintar"? Ia mungkin menyontek, atau sekadar menghafal tanpa mengerti esensinya."

Guru: "Memang ada risiko itu, Mbah Tes. Namun tanpa nilai, bagaimana kami bisa membedakan mana yang serius dan mana yang tidak? Bagaimana orang tua tahu sejauh mana perkembangan anaknya?"

Socrates: "Perbedaan? Bukankah perbedaan sejati itu tampak dalam dialog, dalam pertanyaan yang diajukan, dalam kegigihan mencari jawaban, bukan dalam selembar angka? Bukankah orang tua akan lebih tahu anaknya jika mereka sering berbicara, bukan sekadar melihat rapor? Katakan padaku, wahai Guru. Jika kita mengatakan pada seorang anak bahwa nilainya "buruk", apakah itu membuatnya ingin belajar lebih, atau justru membuatnya merasa bodoh dan putus asa? Bukankah angka itu bisa menjadi dinding yang menghalangi seorang anak untuk mencintai ilmu, karena ia takut akan penghakiman?"

Guru: (Menghela napas) "Kami tidak bermaksud begitu. Nilai adalah cara yang praktis di dunia modern ini untuk mengukur kemajuan dan mempersiapkan mereka untuk masa depan."

Socrates: "Masa depan? Apakah masa depan yang baik itu dibangun di atas deretan angka, atau di atas jiwa yang mencintai kebijaksanaan dan berani bertanya? Bukankah nilai itu hanya bayangan dari sebuah benda, bukan benda itu sendiri? Dan terkadang, bayangan itu bisa menipu mata kita tentang ukuran dan bentuk aslinya. Mungkin fungsi sejati nilai bukanlah untuk mengukur, melainkan untuk memulai sebuah percakapan?"

Guru: (Menutup tumpukan lembar kertas ujian perlahan) "Percakapan... Aku belum pernah memikirkannya seperti itu. Bukan sebagai penentu akhir, tapi sebagai pembuka diskusi tentang di mana seorang anak berdiri, dan bagaimana kita bisa membantunya melangkah lebih jauh, terlepas dari angka itu."

Agora Athena, 3 Januari 2026
Ajun Pujang Anom

11 Februari, 2022

, , ,

Menulis dan Potret Buram Pendidikan

Kemampuan menulis bagi seorang guru, sesungguhnya harus di-install jauh-jauh hari sebelum menjalani peran sebagai guru. Sebab pekerjaan guru memang bertalian erat dengan penulisan. Dari membikin administrasi kelas macam rencana pengajaran beserta konco-konconya sampai mengurusi administrasi sekolah (sebagai tugas tambahan).

Jadi ketika ada seorang guru merengek ke temannya, minta dibuatkan soal atau lebih parahnya minta kiriman file jadinya, sepintas memang terdengar aneh. Namun begitulah fakta pendidikan di Indonesia. Dan ini janganlah buru-buru dianggap sebagai potret buram pendidikan. Perlu pisau kajian yang mampu membelah sampai ke urat-urat terkecil dari problema pendidikan tersebut.

Dan hal itu seharusnya menjadi konsen utama bagi semua pemangku kebijakan di setiap levelnya. Bukan diserahkan kepada kesadaran internal para guru semata. Sebab guru kita sudah berdarah-darah dalam membimbing tunas-tunas bangsa. Jika beban itu dilimpahkan sepenuhnya ke pundak mereka. Tentu kelelahan ekstrim akan mendera. Dan akibatnya bisa ditebak. Yaitu timbulnya "kemalasan berjamaah", yang terkomandoi secara gaib.

Apabila sudah begini, percayalah kutukan "education-treadmill" tercipta. Kelihatannya gegas perkasa, namun tak kemana-mana. Tentu hal seperti ini, tak sudi kita alami bukan?  Makanya diperlukan penumbuhan kesadaran kolektif, agar menemukan win-win solution di antara semua pihak. Tidak cuma satu pihak yang berada di situasi "asu gedhe menang kerahe".

Sumber gambar: dreamstime.com