14 Januari, 2026

12 Januari, 2026

, ,

Socrates Ketemu Seorang Warganet



Sore ini Socrates (kita sebut Mbah Tes), ketemu seorang warganet dan bertanya-jawab soal kegiatannya di dunia maya. 

Socrates: (Mendekati seorang anak muda yang tampak sibuk menggeser jarinya) Salam, anak muda. Apa gerangan yang membuatmu begitu terpaku pada benda bercahaya di tanganmu itu? Apakah kau sedang berbicara dengan para dewa?

Warganet: (Terkejut, menurunkan tabletnya) Bukan, Mbah Tes. Aku sedang melihat-lihat "dunia" di dalam benda ini. Aku sedang berinteraksi dengan warganet lain.

Socrates: Warganet? Apakah mereka adalah warga negara lain yang sangat kecil sehingga bisa masuk ke dalam benda itu? Dan mengapa kulihat mereka seringkali tampak sangat yakin dengan apa yang mereka katakan? Bukankah itu berbahaya?

Warganet: (Menghela napas) Di sini, Mbah Tes, semua orang merasa paling benar. Mereka percaya pada informasi yang mereka dapatkan dan tidak mau disalahkan. Semua orang punya "pendapat" dan merasa itu kebenaran mutlak.

Socrates: Aha! Jadi, tempat itu adalah sebuah pasar di mana setiap orang menawarkan "kebenaran" mereka sendiri, dan mengklaimnya sebagai satu-satunya yang asli? Tapi, bagaimana mungkin semua orang benar, jika kebenaran itu biasanya hanya ada satu? Apakah tidak ada yang mau bertanya dan mencari tahu lebih dalam?

Warganet: Jarang sekali, Mbah Tes. Justru, kadang mereka suka berkata kasar, berdebat sengit, atau bahkan menyerang orang lain hanya karena beda pendapat. Rasanya seperti ada topeng di balik setiap nama, yang membuat mereka berani berkata apa saja.

Socrates: Sebuah topeng? Jadi, di dunia ini, orang-orang menyembunyikan wajah mereka agar bisa berbicara tanpa rasa malu? Apakah menurutmu kata-kata kasar itu lahir dari keberanian, atau dari ketakutan akan dihakimi jika wajah aslinya terlihat?

Warganet: Mungkin dari ketakutan, atau mungkin karena mereka tahu tidak akan ada konsekuensi nyata. Tapi anehnya, Mbah Tes, meskipun kadang brutal, warganet ini juga memiliki sisi lain yang menakjubkan.

Socrates: Oh? Ceritakanlah kepadaku.

Warganet: Saat ada ketidakadilan, mereka bisa bersatu dengan cepat. Saat ada berita palsu atau rekayasa dari pemerintah atau media besar, mereka bisa membongkarnya, bahkan mengalahkan para detektif atau jurnalis yang asli. Mereka seringkali lebih cepat dalam mengungkap kebenaran yang disembunyikan.

Socrates: (Wajahnya berubah serius) Sungguh? Jadi, mereka bisa melihat kebohongan yang tersembunyi? Bukankah itu adalah kekuatan yang luar biasa? Seperti seekor anjing pelacak yang bisa menemukan jejak meskipun sudah terhapus?

Warganet: Betul! Dan saat ada bencana atau musibah, empati mereka luar biasa. Mereka bisa mengumpulkan bantuan dengan sangat cepat, saling mendukung, dan menyebarkan informasi penting yang tidak dijangkau media lain. Mereka sangat cepat tanggap.

Socrates: Ini membingungkan sekali. Bagaimana mungkin sebuah kumpulan orang yang sering merasa benar sendiri, berkata kasar, dan bersembunyi di balik topeng, bisa secara bersamaan memiliki kemampuan luar biasa untuk mengungkap kebenaran dan menunjukkan empati yang tulus? Apakah mereka dua jiwa dalam satu raga?

Warganet: Aku juga bingung, Mbah Tes. Seperti ada dua sisi mata uang yang sangat ekstrem.

Socrates: Mungkinkah, bahwa "topeng" yang kau sebutkan itu bukan hanya menyembunyikan identitas, tetapi juga melepaskan batasan-batasan yang biasanya mengikat manusia di dunia nyata?

Agora Athena, 12 Januari 2026

Ajun Pujang Anom


10 Januari, 2026

, ,

Socrates Ketemu Seorang Penganggur

Sore ini Socrates (kita sebut Mbah Tes), ketemu seorang pengganggur dan bertanya-jawab soal pengangguran. 

Socrates: "Salam, anak muda. Matahari sudah tinggi, dan aku melihat semua orang di pasar ini sibuk dengan urusan mereka. Si tukang besi berkeringat menempa logam, si pedagang berteriak menawarkan buah zaitun. Namun engkau duduk di sini, diam seperti patung di kuil. Gerangan apa yang sedang kau kerjakan?"

Penganggur: (Menoleh dengan sedikit kesal) "Aku sedang berpikir, Mbah Tes. Itu juga sebuah pekerjaan, bukan?"

Socrates: "Tentu, berpikir adalah pekerjaan yang mulia. Namun, biasanya pikiran membutuhkan bahan bakar dari perut yang kenyang. Apakah berpikir memberimu makan hari ini? Atau apakah engkau memiliki pekerjaan lain yang menghasilkan roti?

Penganggur: (Menghela napas) "Tidak, Mbah Tes. Aku tidak punya pekerjaan. Aku seorang penganggur."

Socrates: "Ah, sebuah kondisi yang menarik. Bantulah aku memahami ini. Apakah engkau menganggur karena di Athena ini sudah tidak ada lagi tugas yang perlu diselesaikan? Apakah semua jalan sudah dibangun, semua baju sudah ditenun, dan semua ladang sudah dipanen?"

Penganggur: "Tentu saja tidak. Masih banyak pekerjaan kasar di luar sana. Tapi tidak ada pekerjaan yang layak untukku."

Socrates: "Layak? Jelaskan padaku. Apakah maksudmu pekerjaan yang sesuai dengan keahlian dan jiwamu?"

Penganggur: "Tepat sekali. Aku orang berpendidikan, Mbah Tes. Aku tidak mungkin menghabiskan hariku mengangkut batu di pelabuhan seperti keledai. Itu tidak sesuai dengan diriku."

Socrates: "Jadi, masalahnya bukan "tidak ada pekerjaan", melainkan tidak ada pekerjaan yang kau sukai. Tapi katakan padaku, Argos, manakah yang lebih baik bagi seseorang: melakukan pekerjaan yang tidak ia sukai namun bisa mandiri, atau menyukai ketidakberdayaan karena menunggu kesempurnaan?"

Penganggur: "Itu bukan pilihan yang adil. Masalahnya bukan hanya jenis pekerjaannya, tapi imbalannya. Rata-rata penghasilan yang ditawarkan sangat rendah. Mereka ingin aku bekerja keras seharian tapi membayarku dengan kepingan tembaga yang hanya cukup untuk makan sekali. Itu penghinaan."

Socrates: "Hmmm. Mari kita uji ini. Jika kau ditawari sebuah pekerjaan dengan upah rendah, kau menolaknya karena itu tidak cukup. Tetapi sekarang, saat kau tidak bekerja sama sekali, berapakah upah yang kau terima?"

Penganggur: "Nol besar."

Socrates: "Jadi, menurut logikamu, menerima upah kecil adalah penghinaan, tetapi menerima nol besar—dan mungkin bergantung pada orang lain untuk makan—adalah kehormatan? Apakah kelaparan yang bermartabat lebih baik daripada perut kenyang yang didapat dari upah rendah?"

Penganggur: (Mulai gelisah) "Bukan begitu... Tapi ini juga soal harga diri, Mbah Tes! Aku tidak mau bekerja di bawah perintah orang lain. Aku melihat teman-temanku yang bekerja; mereka diperintah ke sana kemari oleh majikan yang seringkali lebih bodoh dari mereka. Aku tidak mau menghamba. Aku ingin bebas."

Socrates: "Kebebasan! Kata yang indah. Mari kita lihat kebebasanmu saat ini. Kau bilang kau tidak mau diperintah oleh majikan manusia. Tetapi, bukankah saat ini kau sedang diperintah oleh majikan lain yang lebih kejam?"

Penganggur: "Siapa majikan itu? Aku tidak melihatnya."

Socrates: "Majikan itu bernama Kebutuhan dan Ketergantungan. Saat perutmu lapar, bukankah ia memerintahmu untuk mencari makan? Jika kau tidak punya uang sendiri, bukankah kau harus meminta pada orang tuamu atau temanmu? Dan bukankah orang yang harus meminta-minta itu adalah hamba dari mereka yang memberi?"

Penganggur: (Terdiam cukup lama, wajahnya memerah) "Kau memojokkanku, orang tua."

Socrates: "Aku tidak memojokkanmu, sahabatku. Aku hanya meletakkan cermin di depan alasan-alasanmu."

Penganggur: "Baiklah! Mungkin... mungkin kau benar soal itu. Tapi masih ada sesuatu yang menahanku. Rasanya berat sekali untuk memulai."

Socrates: "Nah, sekarang kita mendekati kebenaran yang bersembunyi di balik batu. Tadi kau bilang alasannya ada di luar dirimu: pekerjaan tidak cocok, upah rendah, majikan yang buruk. Tetapi mungkinkah, dan aku bertanya ini dengan tulus, bahwa alasannya ada di dalam dirimu? Mungkinkah ada rasa enggan untuk bersusah payah? Sebuah rasa cinta yang berlebihan pada kenyamanan duduk di bawah pohon ini? Apakah mungkin, bahwa kau sebenarnya... malas?"

Penganggur: (Marah) "Berani sekali kau! Aku bukan pemalas! Aku hanya punya standar yang tinggi!"

Socrates: "Jangan marah dulu. Jika standar tinggi itu membuatmu tetap lapar dan tidak produktif, apa bedanya standar tinggi itu dengan kemalasan yang terbungkus jubah kesombongan? Bukankah orang malas seringkali adalah orang yang paling pandai menciptakan alasan cerdas mengapa mereka tidak perlu melakukan apa-apa?"

Penganggur: (Kemarahannya surut menjadi kebingungan) "Aku... aku tidak tahu harus menjawab apa, Mbah Tes. Semua alasanku tadi terasa masuk akal sebelum kau datang. Sekarang, semuanya terdengar seperti topeng."

Socrates: "Kebingungan itu bagus, kawan. Itu tanda bahwa pikiranmu mulai bekerja lagi setelah lama menganggur. Mungkin pekerjaan pertama yang paling layak untukmu saat ini bukanlah membangun jembatan atau berdagang, melainkan meruntuhkan tembok kesombongan di dalam dirimu sendiri, dan mulai menerima bahwa tangan yang kotor karena kerja lebih mulia daripada tangan yang bersih karena diam."

Agora Athena, 10 Januari 2026
Ajun Pujang Anom

09 Januari, 2026

, ,

Socrates Ketemu Seorang Wartawan

Petang ini Socrates (kita sebut Mbah Tes), ketemu seorang wartawan dan bertanya-jawab soal berita. 

Socrates: "Salam, kawan. Kulihat kau selalu berada di garis depan setiap kejadian, mencatat dengan cepat apa yang dikatakan orang-orang penting. Katakan padaku, apakah kau seorang saksi atau seorang pelukis?"

Wartawan: (Tersinggung sedikit) "Aku adalah seorang wartawan, Mbah Tes! Tugasku bukan melukis fantasi, melainkan menyampaikan fakta yang nyata kepada publik. Aku adalah mata dan telinga bagi rakyat Athena."

Socrates: "Mata dan telingamu, sungguh mulia. Tapi bantulah aku memahami: apakah mata yang kau gunakan itu benar-benar milikmu, atau kau hanya meminjamkan matamu pada orang lain untuk melihat apa yang ingin mereka lihat?"

Wartawan: "Apa maksudmu? Aku menulis apa yang kulihat dan kudengar. Itu nyata, bukan rekayasa."

Socrates: "Mari kita uji. Jika kau melihat seorang pemuda berteriak di pasar, kau mencatatnya sebagai kerusuhan.Tetapi jika kau tidak mencatat bahwa pemuda itu baru saja dirampok, apakah beritamu masih nyata? Ataukah kau sedang merekayasa sebuah kemarahan tanpa sebab?"

Wartawan: "Tentu aku harus mencatat konteksnya. Tapi terkadang ruang di papirusku terbatas, Mbah Tes. Aku harus memilih mana yang paling menarik."

Socrates: "Ah, menarik. Jadi, kau bukan menyajikan seluruh kebenaran, melainkan potongan-potongan yang menurutmu akan laku? Jika demikian, apakah kau masih bisa disebut pembawa berita yang asli, atau kau hanyalah seorang penghibur yang menggunakan fakta sebagai kostumnya?"

Wartawan: (Mulai gelisah) "Aku tetap wartawan asli selama apa yang kutulis memang terjadi. Lagipula, aku bekerja untuk sebuah lembaga berita besar. Mereka yang membiayai perjalananku dan papirusku."

Socrates: "Nah, di sinilah letak teka-tekinya. Katakan padaku, jika lembaga beritamu dimiliki oleh seorang pedagang kaya yang sangat membenci pemerintah, apakah kau akan tetap berani menulis bahwa kebijakan pemerintah itu menguntungkan rakyat kecil?"

Wartawan: "Aku... aku harus mengikuti garis kebijakan pemilik modal. Bagaimanapun, mereka yang memberiku makan."

Socrates: "Berarti, jika kau harus memilih antara kejujuran yang pahit atau pesanan yang manis dari tuanmu, manakah yang akan kau tulis di papirus itu? Apakah kau berpihak pada kebenaran yang tidak punya uang, atau pada penguasa yang punya peti emas?"

Wartawan: "Aku mencoba untuk adil, Mbah Tes. Tapi di dunia nyata, tidak ada yang benar-benar bebas."

Socrates: "Jika kau tidak bebas, bukankah kau hanyalah corong suara orang lain? Jika tulisanmu adalah pesanan, bukankah itu berarti kau bukan pembawa berita, melainkan pembawa propaganda?"

Wartawan: "Tapi rakyat butuh informasi!"

Socrates: "Rakyat butuh kebenaran, bukan sekadar informasi yang sudah dibumbui. Katakan padaku, kawan, mana yang lebih berbahaya bagi sebuah negara: rakyat yang tidak tahu apa-apa, atau rakyat yang percaya pada kebohongan yang kau bungkus dengan label berita?"

Wartawan: (Terdiam, menatap gulungan papirusnya yang kosong) "Kau membuatku merasa seperti seorang pengkhianat bagi profesiku sendiri."

Socrates: "Jangan bersedih, kawan. Mungkin ini saatnya kau bertanya pada dirimu sendiri setiap kali hendak menulis, 'Apakah aku sedang memberikan cahaya bagi rakyat, atau aku sedang membangun bayangan untuk menyembunyikan sesuatu?' Karena martabat seorang wartawan bukan terletak pada seberapa banyak orang yang membaca tulisannya, melainkan pada seberapa berani ia berdiri tegak demi kebenaran, meskipun pemilik modal dan penguasa mencoba membengkokkan penanya."

Agora Athena, 8 Januari 2026
Ajun Pujang Anom

07 Januari, 2026

, ,

Socrates Ketemu Seorang Ibu Rumah Tangga


Pagi ini Socrates (kita sebut Mbah Tes), ketemu seorang ibu rumah tangga dan bertanya-jawab soal kebutuhan hidup. 

Socrates: (Berdiri tegak di samping seorang ibu) "Mengapa kau menatap koin-koin itu seolah-olah mereka adalah musuh yang baru saja mengkhianatimu di medan perang?"

Ibu Rumah Tangga: (Kaget, menoleh dengan ketus) "O, Mbah Tes! Kau berdiri di situ seperti patung marmer. Koin-koin ini memang pengkhianat! Lihatlah, jumlahnya tetap sama sejak tahun lalu, tapi kantong gandum ini menyusut ukurannya. Suamiku bekerja seperti keledai, tapi upahnya tak pernah naik barang sepeser pun!"

Socrates: "Sungguh sebuah teka-teki. Katakan padaku, manakah yang lebih berat: beban gandum yang harganya naik di pundakmu, atau beban pikiran tentang upah suamimu yang diam di tempat?"

Ibu Rumah Tangga: "Dua-duanya berat! Tapi yang lebih menyesakkan adalah saat aku pulang nanti. Anak-anak sudah menunggu seperti burung pipit yang lapar. Yang kecil minta manisan madu, yang tengah minta mainan kereta kayu, dan si sulung—bayangkan!—dia sudah minta kawin! Padahal untuk beli minyak zaitun saja aku harus memeras keringat."

Socrates: (Mengelus janggutnya) "Mari kita telusuri satu hal. Mengenai anak-anakmu yang rewel itu; apakah menurutmu mereka merengek karena mereka benar-benar butuh mainan dan pernikahan, atau karena mereka melihat jiwamu yang gelisah sehingga mereka ikut merasa tidak tenang?"

​Ibu Rumah Tangga: "Jangan bicara filsafat padaku sekarang, Mbah Tes! Mereka merengek karena mereka ingin! Dunia ini kejam, barang-barang makin mahal, dan kebutuhan mereka tidak ada habisnya."

Socrates: "Jika aku memberimu sekarung emas sekarang, apakah anakmu akan berhenti meminta? Ataukah besok dia akan meminta kereta kuda sungguhan dan pernikahan yang lebih megah dari pesta Pericles?"

Ibu Rumah Tangga: "Yah... mungkin saja dia akan minta lebih. Anak-anak memang tak pernah puas."

Socrates: "Kalau begitu, apakah masalahnya ada pada harga barang yang melangit, atau pada keinginan yang tidak memiliki atap? Jika kau tak bisa menurunkan harga gandum, bukankah lebih mudah melatih anak-anakmu untuk memiliki jiwa yang kuat terhadap keinginan?"

Ibu Rumah Tangga: "Lalu bagaimana dengan si sulung yang minta kawin itu? Dia belum punya rumah, belum punya tabungan, tapi sudah mau memboyong istri!"

Socrates: "Katakan padanya, pernikahan bukan sekadar menyatukan dua raga dalam satu atap yang mahal, tapi menyatukan dua pikiran untuk mencari kebenaran. Jika dia bisa memberi makan istrinya dengan kebijaksanaan saat gandum sedang mahal, maka dia siap menikah. Jika tidak, suruh dia belajar berpuasa dulu bersamaku."

Ibu Rumah Tangga: (Tersenyum getir) "Berpuasa bersamamu artinya kami semua akan mati kelaparan sambil berdiskusi! Tapi... kau benar soal satu hal. Kekhawatiranku tidak membuat harga gandum turun."

Socrates: "Tepat. Harga barang ada di tangan para pedagang, tapi kedamaian hatimu ada di tanganmu sendiri. Jadi, apakah kau akan pulang sebagai budak dari koin-koin ini, atau sebagai ratu atas keinginanmu sendiri?"

Ibu Rumah Tangga: (Memasukkan koinnya ke saku dengan mantap) "Aku akan pulang sebagai ibu yang galak, Mbah Tes! Anak-anak akan kuberitahu: tidak ada mainan, tidak ada kawin sebelum kalian bisa membedakan mana butuh dan mana ingin seperti kamu, kakek tua botak!"

Socrates: (Tertawa) "Nah, itu baru namanya pendidikan yang mulia!"


Agora Athena, 7 Januari 2026
Ajun Pujang Anom

06 Januari, 2026

, ,

Socrates Ketemu Seorang Bujangan


Sore ini Socrates (kita sebut Mbah Tes), ketemu seorang bujangan dan bertanya-jawab soal asmara. 

Socrates: (Menyapa dengan lembut) "Salam, anak muda. Kulihat awan mendung menggelayuti wajahmu, padahal matahari bersinar terang. Apakah ada kesedihan yang memenuhi hatimu?"

Bujangan: (Menghela napas lagi) "Salam, Mbah Tes. Tidak ada kesedihan yang berarti, hanya... aku sendiri."

Socrates: "Sendiri? Apakah maksudmu kau tidak memiliki teman? Aku melihatmu sering berbicara dengan orang lain di sini."

Bujangan: "Bukan teman, Mbah Tes. Maksudku, aku tidak punya pasangan. Aku seorang jomblo."

Socrates: "Ah,"jomblo. Sebuah kata yang baru bagiku. Apakah itu berarti kau adalah orang yang terpisah dari seekor kuda? Atau terpisah dari sebuah rumah?"

Bujangan: (Tersenyum getir) "Itu berarti aku tidak punya kekasih, Mbah Tes. Tidak ada yang mencintaiku, atau setidaknya, tidak ada yang mau bersamaku."

Socrates: "Menarik. Apakah kau baru saja kehilangan kekasihmu? Apakah ada seseorang yang memutuskannya darimu, seperti sehelai daun yang putus dari rantingnya?"

Bujangan: (Wajahnya semakin murung) "Ya, beberapa waktu lalu. Dia pergi mencari yang lain."

Socrates: "Jika begitu, bukankah kesedihanmu itu wajar? Seperti luka yang baru mengering. Tapi, apakah luka itu yang membuatmu menjadi jomblo sekarang, atau ada hal lain yang kau sembunyikan?"

Bujangan: "Entahlah. Kadang aku merasa seperti... aku tidak laku. Semua temanku sudah punya pasangan, aku saja yang sendiri. Sepertinya tidak ada yang tertarik padaku."

Socrates: "Tidak laku? Apakah kau ini sebuah barang dagangan di pasar, yang harus ditawarkan agar ada yang membeli? Bukankah manusia itu mencari kecocokan jiwa, bukan sekadar harga? Dan, apa yang sudah kau tawarkan dari dirimu sendiri?"

Bujangan: "Aku sudah mencoba, Mbah Tes. Aku sudah berusaha menarik perhatian, tapi selalu gagal. Mungkin aku memang tidak punya pesona."

Socrates: "Pesona? Bukankah pesona sejati itu terpancar dari hati yang tulus dan pikiran yang bijaksana? Atau apakah kau hanya mencoba meniru pesona orang lain, sehingga pesonamu sendiri tertutup?"

Bujangan: (Mulai sedikit berpikir) "Aku juga sering berpikir, mungkin aku terlalu pilih-pilih. Aku punya standar yang tinggi. Aku ingin seseorang yang sempurna."

Socrates: "Sempurna? Katakan padaku, anak muda, apakah kau sendiri sempurna?"

Bujangan: "Tentu saja tidak, Mbah Tes. Aku punya banyak kekurangan."

Socrates: "Jika kau sendiri tidak sempurna, dan kau mencari yang sempurna, bukankah kau sedang mencari sesuatu yang mustahil? Dan jika kau menemukan yang sempurna, apakah ia akan mau dengan yang tidak sempurna sepertimu?"

Bujangan: (Malu) "Kau benar. Itu terdengar bodoh."

Socrates: Jadi, mungkinkah kesendirianmu ini bukan karena tidak laku atau diputusin, tetapi karena harapanmu sendiri yang tidak realistis, atau mungkin karena kau tidak berani melihat kekuranganmu sendiri dan justru mencari kesempurnaan di luar?"

Bujangan: (Menghela napas lagi, tapi kali ini lebih ringan) "Mungkin. Aku selalu berpikir bahwa aku harus menemukan seseorang yang akan melengkapi kekuranganku, atau yang akan membuat hidupku sempurna."

Socrates: "Ah, disitulah letak kekeliruanmu, anak muda. Cinta sejati bukanlah mencari yang sempurna, melainkan mencintai ketidaksempurnaan. Dan bukankah kebahagiaan sejati itu datang dari dalam dirimu sendiri, bukan dari kehadiran orang lain? Jika kau tidak bahagia saat sendiri, mungkinkah kau akan bisa bahagia sepenuhnya dengan orang lain?"

Bujangan: "Jadi, kau bilang aku harus bahagia sendiri dulu, sebelum mencari pasangan?"

Socrates: "Bukan hanya itu, anak muda. Kau harus mengenal dirimu sendiri terlebih dahulu, dengan segala kelemahan dan kekuatanmu. Bukankah sulit bagi orang lain untuk mencintai dirimu jika kau sendiri belum mengenal dan mencintai dirimu? Mungkin kesendirianmu saat ini adalah sebuah kesempatan, bukan kutukan. Kesempatan untuk menjelajahi dirimu, untuk mencari kebijaksanaan, dan untuk menemukan pesona sejatimu yang mungkin selama ini tertutup oleh ketakutan dan harapan yang keliru."

Bujangan: (Mengangguk perlahan) "Aku tidak pernah melihatnya dari sudut pandang itu. Aku selalu merasa kesepian itu adalah sebuah kegagalan. Tapi kau membuatku berpikir, mungkin ini adalah sebuah perjalanan."

Agora Athena, 6 Januari 2026
Ajun Pujang Anom

05 Januari, 2026

, ,

Socrates Ketemu Seorang Pejabat


Siang ini Socrates (kita sebut Mbah Tes), ketemu seorang pejabat dan bertanya-jawab soal pemerintahan. 

Socrates: (Menyapa dengan ramah) "Salam, wahai kawan yang tampak sibuk. Gerangan apa yang membuatmu begitu tergesa dengan gulungan-gulungan itu? Apakah kau sedang membawa beban kebijaksanaan negara?"

Pejabat: (Terkejut dan sedikit kesal karena interupsi) "Salam, orang tua. Aku adalah seorang pejabat yang mengurus pemerintahan. Aku sedang memastikan bahwa pemerintahan kita berjalan dengan baik dan bersih, sesuai dengan kaidah pemerintahan yang baik dan pemerintah yang bersih."

Socrates: (Mengernyitkan dahi) "Kata-kata yang terdengar mulia. Namun, tolong jelaskan padaku, apa itu pemerintahan yang baik? Apakah itu semacam masakan lezat yang bisa dinikmati semua warga? Dan pemerintah yang bersih? Apakah itu pemerintahan yang mandi setiap hari sehingga tidak ada kotoran yang menempel?"

Pejabat: (Mencoba bersabar) "Bukan begitu, Mbah Tes. Pemerintahan yang baik berarti pemerintahan yang transparan, bertanggung jawab, partisipatif, dan efektif dalam melayani rakyat. Pemerintah yang bersih berarti pemerintahan yang bebas dari korupsi, penipuan, dan penyalahgunaan kekuasaan."

Socrates: "Aha! Transparan, bertanggung jawab, partisipatif... seperti sebuah bejana tembus pandang yang bisa dilihat isinya oleh semua orang, dan jika ada yang tumpah, pemiliknya langsung mengambil tanggung jawab?"

Pejabat: "Ya, kira-kira begitu. Rakyat berhak tahu apa yang dilakukan pemerintah."

Socrates: "Lalu, jika pemerintah itu transparan, tetapi rakyat tidak peduli untuk melihatnya, atau bahkan tidak mengerti apa yang mereka lihat, apakah itu masih bisa disebut pemerintahan yang baik? Bukankah itu seperti menaruh cermin di hadapan orang buta?"

Pejabat: (Mulai berpikir) "Hmm, partisipasi rakyat memang penting agar mereka ikut mengawasi dan memberikan masukan."

Socrates: "Dan mengenai pemerintah yang bersih, bebas dari korupsi. Katakan padaku, kawan, apa itu korupsi? Apakah itu hanya mencuri uang? Atau apakah itu juga mencuri kepercayaan rakyat dengan janji-janji kosong? Atau mungkin mencuri kebenaran dengan menyembunyikan fakta?"

Pejabat: "Korupsi itu adalah penyalahgunaan jabatan untuk kepentingan pribadi atau kelompok, yang merugikan publik. Itu kejahatan!"

Socrates: "Baiklah. Jika seorang pejabat membuat sebuah keputusan yang secara hukum sah, tetapi keputusan itu menguntungkan teman-temannya secara berlebihan, dan merugikan sebagian kecil rakyat yang tidak punya suara, apakah itu masih bersih di matamu, hanya karena tidak ada uang yang dicuri?"

Pejabat: (Diam sejenak) "Itu... itu adalah area abu-abu, Mbah Tes. Sering disebut konflik kepentingan."

Socrates: "Jadi, pemerintah yang bersih tidak hanya tentang tidak mencuri uang, melainkan juga tentang tidak mencuri keadilan dan kesetaraan? Dan pemerintahan yang baik tidak hanya tentang membuat aturan yang baik, tetapi juga tentang menumbuhkan warga negara yang peduli dan bijaksana agar mau berpartisipasi dan mengawasi?"

Pejabat: "Kau membuat ini lebih kompleks dari yang kupikirkan. Kami mencoba menerapkan sistem agar semuanya berjalan otomatis."

Socrates: "Sistem, kawan, hanyalah alat. Bukankah sebuah pemerintahan yang baik dan bersih itu pada dasarnya bermula dari hati dan pikiran orang-orang yang menjalankannya? Jika hati itu serakah, dan pikiran itu dangkal, sehebat apapun sistemnya, bukankah ia akan tetap kotor? Dan jika rakyatnya tidak punya kebajikan, apakah mereka akan memilih pemimpin yang bersih dan bijaksana?"

Pejabat: (Meletakkan gulungan-perkamennya) "Kau benar, Mbah Tes. Kami sering terlalu fokus pada aturan dan prosedur, dan melupakan bahwa fondasi dari pemerintahan yang baik dan pemerintah yang bersih yang sejati adalah kebajikan dan integritas dalam setiap warga negara, dari yang paling bawah hingga yang paling atas. Tanpa itu, semua aturan dan sistem hanyalah topeng."

Socrates: "Nah! Mungkin tugas kita bukanlah hanya membuat aturan yang sempurna, melainkan menanamkan kebajikan dan cinta akan keadilan di dalam jiwa setiap warga negara, termasuk para pejabat seperti dirimu. Bukankah itu pekerjaan yang lebih mulia dan abadi?"

Agora Athena, 5 Januari 2026
Ajun Pujang Anom

04 Januari, 2026

, ,

Socrates Ketemu Seorang Anak Kecil


Pagi ini Socrates (kita sebut Mbah Tes), ketemu seorang anak kecil dan bertanya-jawab soal bermain. 

Socrates: "Hai anak kecil, aku perhatikan kau begitu tekun dengan batu-batu itu. Apakah kau sedang menjalankan perintah dari rajamu untuk membangun bendungan yang kokoh?"

Anak Kecil: (Tertawa) "Tidak, Mbah Tes. Aku tidak punya raja. Aku cuma sedang bermain."

Socrates: "Bermain? Bantu aku memahaminya. Apakah bermain itu adalah sebuah pekerjaan yang melelahkan? Kulihat keringat menetes di dahimu."

Anak Kecil: "Capek sih, Mbah Tes. Tapi ini bukan kerja. Kalau kerja itu kan karena disuruh ibu atau guru. Kalau ini, aku sendiri yang mau."

Socrates: "Oh! Jadi perbedaannya ada pada siapa yang memerintah? Jika kau melakukan hal yang sama karena disuruh, itu disebut kerja. Namun jika kau melakukannya karena keinginanmu sendiri, itu disebut bermain?"

Anak Kecil: "Mungkin begitu. Dan lagi, kalau main itu tidak harus jadi apa-apa. Nanti kalau aku pulang, bendungan ini pasti hancur kena air sungai. Tapi aku tidak sedih."

Socrates: "Ini sungguh aneh. Kau membuang tenaga untuk sesuatu yang kau tahu akan hancur? Bukankah itu perbuatan yang sia-sia? Orang dewasa membangun rumah agar mereka bisa tidur di dalamnya. Apa yang kau dapatkan dari bendungan yang akan hancur ini?"

Anak Kecil: "Aku dapat "serunya", Mbah Tes! Saat aku mencoba menaruh batu agar airnya tidak lewat, aku harus berpikir. Itu yang asyik."

Socrates: "Menarik sekali. Jadi, bermain bukanlah tentang "hasil akhir" seperti bangunan yang permanen, melainkan tentang "proses" saat kau melakukannya? Kau sedang menguji duniamu, bukan?"

Anak Kecil: "Iya! Aku ingin tahu, kalau batunya kecil, airnya lewat tidak? Kalau batunya besar, bagaimana?"

Socrates: "Kalau begitu, bolehkah aku mengatakan bahwa bermain adalah cara seorang manusia belajar tanpa rasa takut akan kegagalan? Karena bagimu, bendungan yang hancur bukanlah kekalahan, melainkan hanya akhir dari sebuah cerita?"

Anak Kecil: (Mengangguk-angguk) "Betul, Mbah Tes. Tidak ada yang marah kalau bendunganku rusak. Aku cuma tinggal buat lagi yang baru."

Socrates: "Wahai kawan kecil, kau baru saja mengajariku sesuatu yang besar. Mungkin kami, orang-orang tua yang merasa bijaksana ini, sebenarnya sedang iri padamu. Kami terlalu sibuk memikirkan "hasil" dan "kegunaan" sehingga kami lupa bagaimana rasanya mencintai proses hanya karena proses itu sendiri. Jadi, mungkinkah bermain adalah bentuk pendidikan yang paling murni? Di mana jiwamu bebas mencoba, gagal, dan mencoba lagi tanpa beban?"

Anak Kecil: "Entahlah Mbah Tes, aku tidak mengerti kata-kata rumit itu. Aku cuma tahu kalau aku berhenti main, aku tidak akan tahu cara menahan air sungai ini. Kakek mau ikut bantu taruh batu?"

Socrates: (Tersenyum) "Tentu. Mari kita "belajar" menahan air sungai ini bersama-sama."

Sungai Eridanos Athena, 4 Januari 2026
Ajun Pujang Anom

03 Januari, 2026

, ,

Socrates Ketemu Seorang Guru


Siang ini Socrates (kita sebut Mbah Tes), ketemu seorang guru dan bertanya-jawab soal nilai atau skor. 

Socrates: (Melihat seorang guru yang sedang memeriksa tumpukan lembar kertas ujian) "Salam, wahai kawan pendidik. Apa gerangan yang sedang kau lakukan dengan begitu seriusnya?"

Guru: "Salam, Mbah Tes. Aku sedang menilai pekerjaan murid-muridku. Ini adalah bagian penting dari pekerjaanku: memberikan skor atau nilai pada usaha mereka."

Socrates: "Nilai? Skor? Jelaskanlah padaku yang buta pengetahuan ini, apa itu "nilai" dan apa gunanya? Apakah itu semacam ramuan ajaib yang membuat mereka lebih bijaksana?"

Guru: "Nilai adalah ukuran. Ia menunjukkan seberapa baik seorang murid memahami materi pelajaran. Ia mengukur pengetahuan mereka, kerja keras mereka, dan kemampuan mereka. Dengan nilai ini, kami tahu siapa yang berhasil dan siapa yang perlu bantuan lebih."

Socrates: "Menarik. Jadi, nilai itu seperti timbangan untuk jiwa dan pikiran? Apakah angka-angka itu benar-benar menunjukkan seberapa "tahu" seseorang?"

Guru: "Tentu saja. Seorang murid yang mendapat nilai sempurna, misalnya, berarti ia menguasai materinya dengan baik. Ia pantas dihargai."

Socrates: "Hmmm. Mari kita bayangkan dua orang murid. Murid pertama menghabiskan waktu berjam-jam mempelajari sesuatu yang ia benci, hanya untuk mendapatkan nilai sempurna. Ia menghafal setiap kata, namun tidak mencintai prosesnya, dan mungkin melupakannya seminggu kemudian. Murid kedua mencintai pelajaran tersebut, menyelaminya, berdebat dengannya, namun karena ia sering melamun dan salah dalam beberapa detail, ia mendapat nilai pas-pasan. Manakah yang menurutmu lebih "tahu"?"

Guru: (Terpikir sejenak) "Secara angka, murid pertama. Tapi secara pemahaman... mungkin yang kedua."

Socrates: "Jadi, nilai itu tidak selalu menunjukkan pemahaman sejati? Bukankah itu berarti nilai terkadang menipu kita? Apakah nilai itu mengukur cinta seseorang pada ilmu, atau hanya kepatuhan pada aturan?"

Guru: "Itu pertanyaan yang sulit. Kami berharap nilai mendorong mereka untuk belajar. Nilai juga memotivasi. Murid ingin mendapat nilai bagus."

Socrates: "Motivasi? Apakah motivasi untuk mendapat angka yang tinggi sama dengan motivasi untuk mencari kebenaran? Bukankah terkadang, demi angka itu, seseorang akan berusaha "terlihat pintar" alih-alih "menjadi pintar"? Ia mungkin menyontek, atau sekadar menghafal tanpa mengerti esensinya."

Guru: "Memang ada risiko itu, Mbah Tes. Namun tanpa nilai, bagaimana kami bisa membedakan mana yang serius dan mana yang tidak? Bagaimana orang tua tahu sejauh mana perkembangan anaknya?"

Socrates: "Perbedaan? Bukankah perbedaan sejati itu tampak dalam dialog, dalam pertanyaan yang diajukan, dalam kegigihan mencari jawaban, bukan dalam selembar angka? Bukankah orang tua akan lebih tahu anaknya jika mereka sering berbicara, bukan sekadar melihat rapor? Katakan padaku, wahai Guru. Jika kita mengatakan pada seorang anak bahwa nilainya "buruk", apakah itu membuatnya ingin belajar lebih, atau justru membuatnya merasa bodoh dan putus asa? Bukankah angka itu bisa menjadi dinding yang menghalangi seorang anak untuk mencintai ilmu, karena ia takut akan penghakiman?"

Guru: (Menghela napas) "Kami tidak bermaksud begitu. Nilai adalah cara yang praktis di dunia modern ini untuk mengukur kemajuan dan mempersiapkan mereka untuk masa depan."

Socrates: "Masa depan? Apakah masa depan yang baik itu dibangun di atas deretan angka, atau di atas jiwa yang mencintai kebijaksanaan dan berani bertanya? Bukankah nilai itu hanya bayangan dari sebuah benda, bukan benda itu sendiri? Dan terkadang, bayangan itu bisa menipu mata kita tentang ukuran dan bentuk aslinya. Mungkin fungsi sejati nilai bukanlah untuk mengukur, melainkan untuk memulai sebuah percakapan?"

Guru: (Menutup tumpukan lembar kertas ujian perlahan) "Percakapan... Aku belum pernah memikirkannya seperti itu. Bukan sebagai penentu akhir, tapi sebagai pembuka diskusi tentang di mana seorang anak berdiri, dan bagaimana kita bisa membantunya melangkah lebih jauh, terlepas dari angka itu."

Agora Athena, 3 Januari 2026
Ajun Pujang Anom

02 Januari, 2026

, ,

Socrates Ketemu Seorang Pengarang


Sore ini Socrates (kita sebut Mbah Tes), ketemu seorang pengarang dan bertanya-jawab soal menulis. 

Socrates: "Wahai kawan, aku melihatmu begitu asyik menggerakkan jemarimu di atas lembaran papirus itu. Katakan padaku, apa sebenarnya yang sedang kau lakukan?"

Pengarang: "Aku sedang menulis, Mbah Tes. Aku sedang mengabadikan pikiran agar tidak hilang ditelan waktu."

Socrates: "Menulis? Sungguh luar biasa. Tapi bantulah aku yang bodoh ini untuk mengerti: apakah menulis itu berarti kau sedang memindahkan isi kepalamu ke dalam benda mati itu?"

Pengarang: "Bisa dikatakan begitu. Menulis adalah cara kita menyampaikan kebenaran kepada orang lain, bahkan kepada mereka yang belum lahir. Itulah manfaat terbesarnya: keabadian ilmu."

Socrates: "Jawaban yang indah. Namun, izinkan aku bertanya satu hal. Jika aku bertanya pada tulisanmu ini tentang "mengapa" ia mengatakan demikian, apakah ia akan menjawabku?"

Pengarang: "Tentu saja tidak, Mbah Tes. Ia tetap diam. Kau harus membacanya lagi untuk memahaminya."

Socrates: "Jadi, tulisan itu seperti lukisan? Ia tampak hidup, tetapi jika ditanya, ia tetap bungkam?"

Pengarang: "Ya, memang begitu sifatnya."

Socrates: "Kalau begitu, bukankah menulis memiliki bahaya? Jika seseorang yang tidak paham membaca tulisanmu dan salah mengerti, apakah tulisan itu bisa membela dirinya sendiri? Apakah ia bisa menjelaskan maksudnya kepada si pembaca yang keliru itu?"

Pengarang: (Mulai ragu) "Tidak, ia tidak bisa membela diri. Penulisnya lah yang harus melakukannya."

Socrates: "Maka, jika penulisnya sudah tiada, bukankah tulisan itu menjadi yatim piatu yang bisa disalahgunakan oleh siapa saja? Dan katakan padaku kawan, apakah dengan menulis, manusia akan menjadi lebih ingat, atau justru menjadi lebih pelupa?"

Pengarang: "Tentu saja lebih ingat, Mbah Tes! Karena semuanya sudah tercatat."

Socrates: "Benarkah? Ataukah mereka justru berhenti melatih ingatan mereka karena merasa "pengetahuan" itu sudah ada di luar kepala mereka, di atas kertas itu? Bukankah itu hanya memberikan penampakan kebijaksanaan, dan bukan kebijaksanaan yang sesungguhnya di dalam jiwa?"

Pengarang: (Terpaku sejenak) "Kau membuat menulis tampak seperti racun bagi ingatan. Lalu, apakah menurutmu menulis itu sama sekali tidak bermanfaat?"

Socrates: "Aku tidak mengatakan itu. Namun, mungkin menulis bermanfaat bukan untuk "menyimpan" kebenaran, melainkan sebagai cermin. Dengan menulis, kau dipaksa melihat pikiranmu sendiri yang kacau menjadi tersusun. Bukankah begitu?"

Pengarang: "Benar! Saat aku menulis, aku baru sadar betapa banyak lubang dalam pikiranku yang harus aku tambal."

Socrates: "Nah! Jadi, mungkinkah manfaat menulis yang sejati bukanlah untuk mengajari orang lain (karena hanya dialektika hidup yang bisa mengajar), melainkan untuk menguji diri sendiri? Menulis adalah cara kita berbicara dengan diri kita yang paling jujur di atas kertas?"

Pengarang: "Aku tidak pernah memandangnya seperti itu, Mbah Tes. Menulis ternyata bukan tentang menjadi abadi, melainkan tentang menjadi sadar akan pikiran sendiri."

Agora Athena, 2 Januari 2026

Ajun Pujang Anom

24 Januari, 2023

,

Bikin "Mobile-Library" dari Kardus Bekas

Bikin "Mobile-Library" dari Kardus Bekas
(Hari Kesembilan Belas Masuk Sekolah)
Oleh: Ajun Pujang Anom

Hari kedelapan belas ini, penataan kelas hampir rampung. Tinggal menambahkan beberapa hal, seperti jam dinding, pot bunga, buku bacaan dan gambar para pahlawan. Kebetulan ada sebuah kardus bekas yang teronggok di kantor guru. Daripada teronggok sendirian, lebih baik dimanfaatkan. Dijadikan wadah buku bacaan. Maklum buku bacaannya tak punya tempat tersendiri, sehingga perlu dibuatkan. Karena tak ada pendanaan untuk itu, sesuai dengan peribahasa "Tak ada rotan, akar pun jadi". Makanya kardus itu menjadi sarangnya kini.

Ini hitung-hitung untuk mendaur-ulang kembali barang yang sudah tak terpakai. Digunakan untuk sarana pendukung literasi sekolah.  Meskipun terlihat ringkih, namun keberadaannya dapat menambal kebutuhan. Sebab jika buku bacaannya dihamparkan begitu saja di meja, kemungkinan besar akan bercampur dengan buku-buku lainnya. Sehingga akan terselip, dan bisa dipikir hilang keberadaannya. Apabila dimasukkan ke dalam lemari kayu, kemungkinan kecil akan dibaca. Karena lemari yang ada, begitu rapat. Dan kalau terlalu sering dibuka, nantinya akan rusak engselnya.

Jadi pemakaian kardus itu adalah win-win solution terhadap permasalahan di atas. Di samping itu, punya poin plus dibandingkan dengan rak buku. Kardus itu sifatnya mobile. Sehingga mudah dipindahkan. Dan juga buku-buku yang berada di dalamnya, tetap aman. Nilai tambah lainnya adalah, kardus ini dapat dihias dengan leluasa. Apabila sudah agak rusak, juga dapat cepat digantikan dengan yang lebih layak.

Agar lebih dapat membetot perhatian, kardus ini pun saya pikir harus diberi nama. Karena kemarin beberapa aktivitas pendukung pembelajaran mempunyai nama-nama hewan dalam Bahasa Jawa (yang ditingkahi pula dengan kegiatan yang menyertainya), kardus ini pun perlu juga untuk mengekorinya. Setelah ditimang-timang, nama yang cocok-terap adalah Kadal Baris. Ingat, ini juga singkatan seperti sebelumnya. Dan kepanjangannya adalah Kardusnya Literasi Baca Saat Beristarahat.

Bagaimana dengan Cecek Turu (Cerita-cerita Kekinian untuk Ditiru)? Kalau Cecek Turu itu, dibaca ketika sebelum pelajaran dimulai. Bisa dibilang semacam kegiatan dalam Gerakan Literasi Sekolah. Yang bahan bacaannya sudah disiapkan, dalam bentuk lembaran, bukan buku. Dan isinya menyesuaikan dengan materi pelajaran. Sedangkan yang Kadal Baris, sewaktu istirahat. Apa anak-anak tidak bosan, jika waktu bacanya sampai dua kali? Sepertinya tidak. Mereka terlihat enjoy-enjoy saja. Mungkin karena yang Kadal Baris ini tidak merupakan "keharusan", sehingga mau baca maupun tidak, terserah mereka.

Bojonegoro, 24 Januari 2023

21 Januari, 2023

, ,

Kontrol Diri dengan Terapi Menggambar

Kontrol Diri dengan Terapi Menggambar
(Hari Kedelapan Belas Masuk Sekolah)
Oleh: Ajun Pujang Anom

Di hari kedelapan belas ini, saya baru menyadari bahwa Tema 6 ini "ditingkahi" banyak ulasan tentang poster. Mestinya kesadaran ini tak boleh datang terlambat, sebab sudah sampai Subtema 3 pada Pembelajaran 6. Tapi ya, saya maklumi sendiri. Dengan alasan, jadi guru kelas enamnya juga makbenduduk, mendadak begitu saja. Belum ada persiapan sebelumnya.

Adanya materi tadi, menimbulkan pemikiran kepada diri saya. Apakah memang ini dibikin karena ada kaitannya dengan apa yang dialami para siswa? Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa anak-anak di kelas enam, biasanya sudah memasuki masa pubertas. Dan seringkali di masa pubertas itu, kontrol diri belum bisa dilakukan sepenuhnya alias masih labil.

Lantas apa hubungannya masa pubertas dengan poster? Tentu ada, dan tak cuma digatuk-gatukkan alias cocoklogi. Coba dipikir! Mana mungkin pembuat kurikulum tidak memikirkan hal yang saling terkait? Pasti mereka sudah dengan amat sangat telitinya. Melakukan penjlimetan dengan tingkatan luar biasa.

Agar sidang pembaca, tidak terjebak kebingungan lebih dalam. Mari kita bahas apa itu kontrol diri? Menurut Tangney, Baumeister dan Boone, kontrol diri (self-control) merupakan kemampuan seseorang untuk melampaui atau merubah respon dalam diri juga untuk menghalangi perilaku yang tidak diinginkan, yang muncul sebagai bentuk respon dari sebuah situasi.

Rubin berpendapat, art therapy atau terapi seni merupakan cara untuk memahami dan membantu orang lain dengan proses terapi melalui seni. Sedangkan dari Malchiodi, proses pelaksanaan art therapy juga dapat menjadi sarana anak melepaskan emosi dan mengatasinya.

Dan salah satu terapi seni itu adalah menggambar. Seperti yang kita pahami, poster adalah bagian dari seni menggambar. Dengan adanya banyak bahasan tentang poster (yang disertai praktik pembuatannya), dapat membuat anak secara sadar maupun tak sadar belajar untuk mengendalikan diri. Apalagi saat membuat posternya, mereka terlihat lebih tenang. Berusaha menyelesaikan dengan baik. Meskipun jika dihitung, waktu yang dihabiskan--menurut perkiraan saya-setengah kali lebih banyak dibandingkan dengan kelas yang lebih bawah.

Bojonegoro, 21 Januari 2023

19 Januari, 2023

,

Mengerjakan di bawah atau atas?

Mengerjakan di bawah atau atas?
(Hari Keenambelas Masuk Sekolah)
Oleh: Ajun Pujang Anom

Alangkah hebohnya, jika anak-anak mendadak mendapatkan meja sekolah seperti pada gambar di atas. Sudah dapat dipastikan mereka gegas untuk merengek-rengek, agar tidak ada jam pulang sekolah. Bahkan saking enggannya pulang sekolah, mereka maunya nginap saja. "Bayar mahal gapapa pula", mungkin begitu pikiran mereka. Dan jangankan mereka, mungkin kita juga akan betah berlama-lama. Baik itu untuk sekadar searching hal-hal tak penting sampai untuk bikin konten usaha sampingan.

"Bolehkah mengerjakan di bawah (maksudnya di atas lantai)?" Kalimat ajaib seperti itu mustahil untuk menyeruak ke permukaan. Sebab semua hal, bisa dikerjakan di atas. Dan sudah terwujud dengan begitu nyamannya (paling tidak dari segi psikis). Lain halnya dengan keadaan pada umumnya sekarang ini. Meja sekolah cenderung kurang membuat mereka merasa comfort atau leluasa. Ini memang yang lumrah dan alamiah. 

Oleh karena itulah, terkadang terbit kepenatan fisik yang berimbas ke psikis juga. Sehingga "kalimat sakti" seperti di atas, sesekali muncul dalam proses pembelajaran sehari-hari. Ini tentu bukan salah mereka. Kalau bukan salah mereka? Lantas salah siapa? Yang jelas, tak perlu menyalahkan "mejanya". Jika ada yang patut disalahkan, tetaplah kita sebagai guru. Mengapa? Coba renungkan!

Kita kerapkali lupa. Mungkin salah satunya karena begitu "asyik" mengerjakan tugas-tugas administrasi. Dan memberi mereka pekerjaan "yang menggunung". Sehingga dampaknya, mereka duduk terpekur, dari jam tujuh pagi hingga teng-teng-teng jam pulang sekolah. Dan itu hanya sedikit diselingi dengan masa rehat yang tak seberapa mendorong otot-otot badan menjadi rileks.

Dengan melihat argumen tadi, maka di hari keenambelas ini saya menyodorkan kalimat sakti tadi, pasca istirahat sekolah. Sebab nampaknya dari mulai masuk, anak-anak sudah digelontor tugas oleh guru sebelumnya. Mendengar tawaran saya, ekspresi kegirangan terpampang nyata di muka-muka mereka. Dan mereka begitu cepatnya, menghamparkan diri di atas lantai--yang tentunya sudah dipel--dengan mode kelesotan.

Bojonegoro, 19 Januari 2023

18 Januari, 2023

,

Yang Penting "Paham", Bukan "Pernah"

Yang Penting "Paham", Bukan "Pernah"
(Hari Kelimabelas Masuk Sekolah)
Oleh: Ajun Pujang Anom

Menjelang siang, di hari kelimabelas, saatnya pelajaran Matematika. Ada seorang anak yang berkata, "Itu sudah pernah diterangkan pak". Ketika membuka materinya. Tentu saya merasa senang, jika materinya sudah pernah diterangkan. Pasti mereka akan cepat mengerti, itu pikir saya. Mungkin begitu juga, pikiran bapak dan ibu sekalian.

Namun saya juga teringat, bahwa pernyataan ini, adalah hal yang lumrah. Dan bisa dianggap sebagai pernyataan ketidaksukaan secara terselubung. Sebab anak-anak kerapkali tidak menyukai suatu materi yang diulang-ulang, padahal belum tentu paham. Maunya yang serba new, setiap ketemu.

Ini bukannya suuzan lho ya. Ini juga fakta dan bisa dibuktikan. Sebab biasanya reaksi ini muncul, ketika seorang guru menanyakannya terlebih dahulu. Bukannya secara "berani" terlebih dulu menyatakan pendapat. Dan sewaktu ditanya balik, pastilah jawabannya sudah sangat-sangat bisa ditebak. Yaitu "tidak bisa". Memang berlagaklah, tapi kita sebagai guru tak perlu ambil emosi.

Beda halnya, kalau respon awalnya begini, "Wah aku udah bisa." Jika pendapatnya begitu, jelas nampak memang menguasai. Meski begitu, tetap kita tes sampai seberapa besar derajat kepintarannya. Apakah memang valid dan perlu diacungi jempol? Ataukah semacam pendapat akon-akon belaka?

Dan karena jawaban anak tadi sudah terang benderang. Maka tentunya saya mengharuskan diri untuk menerangkan kembali dari awal secara utuh. Setelah menerangkan, kemudian saya susul dengan contoh. Lalu tibalah saya memberikan dua buah soal saja. Mengapa cuma dua buah saja? Karena saya lebih mementingkan anak menjadi paham. Bukan yang penting banyak. Sebenarnya secara substantif keduanya sama. Yang membedakan cuma, yang satu mengandung gambar, sedangkan lainnya tidak.

Ternyata soal yang saiprit itu, butuh waktu yang lama bagi mereka untuk menyelesaikan. Dan saat saya membahasnya, sebagian besar dari mereka berkata, "Jawabannya saya sama pak, tapi caranya berbeda". Tentu saya kaget dong. Dalam benak saya tak ada cara lain, sebab sesuai buku caranya cuma itu. Dan seperti itulah saya terangkan.

Untuk mengobati rasa kekagetannya saya, saya minta salah satunya menuliskan perhitungannya di depan. Dan caranya memang beda, tidak berasal dari buku. Melihat ini saya tersenyum dan berkata, "Matematika mengenal beragam cara dan rumusan. Dan cara yang kalian pakai itu tidak salah. Hanya tidak sama dengan yang diterangkan. Apakah itu boleh? Sebenarnya boleh. Tapi ingat, lebih baik menggunakan cara yang sudah diterangkan. Apalagi cara yang diterangkan ini lebih pendek dan mudah."

Bojonegoro, 18 Januari 2023

15 Januari, 2023

,

Bikin Peraga untuk Mapel Agama

Bikin Peraga untuk Mapel Agama
Oleh: Ajun Pujang Anom

Kemarin sore, Alhamdulillah saya berhasil menelurkan tiga konsep alat bantu pembelajaran dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Karena ini masih konsep yang tersimpan dalam benak, jadi masih bisa dibilang konsep yang mentah. Meskipun konsepnya masih mentah, namun ada yang sudah matang. Yaitu namanya. Namanya telah dibikin dan diyakini sudah tepat. Ini kok sama seperti ortu yang ngecek calon buah hatinya lewat USG, kemudian segera mencari nama yang cocok sesuai jenis kelamin. Padahal lho, belum tentu brojol dalam keadaan bagas-waras. Pokoknya, yang penting yaqin dan optimistic.

Dan ngomong-ngomong soal pemberian nama ini, butuh waktu yang tak sedikit. Ada yang sudah ketemu beberapa detik, ketika konsep peraganya sudah diperoleh. Ada yang memerlukan waktu belasan jam, dan menguras pikiran. Walaupun akhirnya menghasilkan nama yang bisa dibilang, "Yah, begitu saja." Memang betul, menciptakan sebuah nama bukanlah perkara mudah. Sebab dia penanda, dan sebagai penanda harus memicu ketertarikan. Apalagi ini nama sebuah alat bantu, tentu kudu yang bisa membetot perhatian. Tetapi tidak mengabaikan fungsionalitasnya.

Tiga buah peraga tadi, berasal dari tiga buah bahan ajar yang berbeda. Tiga buah materi tersebut adalah Tajwid, Asmaul Husna, dan Wudlu. Untuk peraga dari Tajwid, diberi nama Beta Manise. Nama ini kependekan dari Bendera Tajwid - Media Alternatif Sederhana). Yang kedua adalah Pahala Besar. Disingkat dari Peraga Asmaul Husna dalam Benda Saling Terkait). Dan yang terakhir, bernama Perwira Gema. Nama yang diambil dari Peraga Wudlu Informatif Gerak Maju.

Untuk peraga Beta Manise, merupakan modifikasi dari media pembelajaran yang telah saya buat dulu untuk materi Aksara Jawa, yaitu Gelatin (Gendhera Latih Hanacaraka). Sengaja saya comot dari sini, karena kesamaan substansi. Sedangkan peraga Pahala Besar, berasal dari pengembangan puzzle. Kita sudah ketahui bersama, bahwa puzzle bisa menjadi sarana yang bisa menyalurkan seluruh gagasan dalam hampir semua materi pelajaran. Khusus untuk Perwira Gema, berasal dari modifikasi alat peraga yang umum dijual di olshop, namun biasanya dibuat terpisah untuk anak laki-laki dan perempuan. Dalam media ini, tidak benar-benar terpisah. Atau lebih tepatnya bergantian.

Semua peraga di sini, menggunakan bahan utama dari kertas (dapat diganti dengan bahan lain, sesuai keadaan). Dan juga bisa diwujudkan dalam animasi sederhana menggunakan aplikasi Microsoft PowerPoint (dapat juga dengan aplikasi lainnya, sesuai kebutuhan). Ini artinya ketiga peraga tadi bisa dikemas dengan beragam bentuk, sesuai dengan inovasi dan kreativitas guru. Jadi tidak zakelijk, monoton pakai satu bahan saja. Dan menurut saya, sebuah peraga harus mampu ditransformasikan ke dalam berbagai bentuk, sesuai dengan kondisi dan perkembangan zaman.

Bojonegoro, 15 Januari 2023

14 Januari, 2023

Macan Luwe

Macan Luwe
(Hari Keduabelas Masuk Sekolah)
Oleh: Ajun Pujang Anom


Selain Gerakan Jum'at Bersih, ada satu lagi kegiatan yang bisa dimodifikasi, yaitu Mading atau kepanjangannya adalah Majalah Dinding. Kalau biasanya majalah dinding itu "wadahnya" dipaku di dinding, untuk kali ini digantung alias dicantol. Makanya dinamakan "Majalah Cantol", disingkat Macan. Kalau Macan saja, rasanya kurang nendang. Perlu diimbuhi kata-kata yang melaparkan. Dan ketemulah kata "Luwe". Luwe ini singkatan dari Luwapkan Ekspresi. Sehingga jadilah istilah Macan Luwe.

"Wah, wah, maksa nih singkatannya", apabila Anda berpikir demikian. Maka pendapat saya pun tak jauh beda. Namun akhirnya saya tak ambil pusing. Sebab setelah saya otak-atik pikiran, kagak ketemu yang sesuai. Jadi terpaksalah pakai itu. Dan jika dirasa-rasa, itu tidaklah terlalu buruk. Malah mengesankan kepada siswa untuk bergegas menggelontorkan gagasan-gagasan hebat. Bahkan yang out of the box sekalipun.

Sebab apapun penemuan atau inovasi, selalu dikira nganeh-anehi. Terlalu beyond. Tidak membumi dan "apalah-apalah" lainnya. Namun setelah dirasa ada guna dan manfaatnya, langsung dicomot, serta dieksploitasi berlebihan. Begitulah sifat manusia dimanapun tempatnya. Jadi sulit untuk menafikkan fenomena ini.

Karena berprinsip pada kepraktisan dan hemat biaya, maka dipilihlah media yang menjadi "inang" dari si majalah itu. Karena posisinya dicantol, maka yang layak menjadi opsi tidak lain dan tidak bukan adalah kalender bekas. Tentu dengan menggunakan punggung polosnya sebagai tempat menempel.

Dengan menggunakan kalender bekas, posisi gantungannya bisa bergerak secara mobile. Berbeda dengan mading konvensional yang harus teronggok pasrah di tempat tertentu. Walaupun begitu, tetap ada kelemahannya. Karena pergerakannya bisa pindah kemana-mana, memungkinkan kerusakannya lebih tinggi. Ditambah pula, dengan tidak adanya pengaman berupa kaca atau plastik, yang biasanya menjadi pelindung sekaligus pemisah jarak.

Dan mulai hari Sabtu ini atau hari keduabelas masuk sekolah, kita buat bersama-sama. Nanti diagendakan dibikin seminggu sekali. Tentunya dengan tema yang beragam dan tidak melenceng dari materi pelajaran yang ada. Dan tema kali ini, yang kita usung adalah Pubertas.

Bojonegoro, 14 Januari 2023

13 Januari, 2023

,

Bebek Dolan

Bebek Dolan
(Hari Kesebelas Masuk Sekolah)
Oleh: Ajun Pujang Anom

Mungkin ada yang mulai bosan baca tulisan ini. Karena tiap hari bahasannya "hewan" melulu. Oleh karena itu, saya minta maaf. Namun saya rasa harus tetap melanjutkan. Sebab eksperimentasi pembelajaran, lewat kegiatan ini masih berlangsung. Dan membutuhkan akronim-akronim yang dapat menggugah selera kreativitas. Kalau tanpa disingkat maupun disingkat secara "biasa" saja, kesannya kurang mengena. Perlu keunikan yang menyegarkan benak.

Dan di hari kesebelas ini, saya memakai istilah Bebek Dolan alias Bersih-bersih Kelas dan Halaman Sekolahan. Ini adalah sebutan lain daripada Gerakan Jum'at Bersih, yang sudah lama digemakan. Tidak ada kebaruan dalam rutinitasnya. Hanya sekadar mengenalkan terminologi baru. Kalaupun nanti dikembangkan agar tidak monoton, bisa dengan menambahkan yel-yel ataupun lagu. Dengan adanya hal itu, memungkinkan semangat bersih-bersihnya jadi meninggi.

Di samping itu, juga dapat dibuatkan maskot atau kostum. Namun ini tentu butuh modal, yang tidak dapat dikatakan sedikit. Meskipun bisa diakali, dengan bahan pembuatannya dari kertas, plastik, dan barang-barang tak terpakai di sekitar kita. Dengan ini, malah membikin jadi nilai plus. Benar-benar mengurangi sampah, juga membuat keadaan menjadi lebih hidup serta indah.

Dan semakin menyenangkan pula, jika sekali-kali di akhir kegiatan, diadakan makan besar dengan bahan dasarnya adalah bebek. Jadi kegiatannya betul-betul bebek detected. Apabila dikonsepkan dengan matang, bisa menjadi trade mark sekolahan. School branding yang murah, namun bertenaga.

Mungkin gagasan yang serba murah-meriah semacam ini diterapkan di berbagai level pendidikan, akan tercipta lingkungan pembelajaran yang mempunyai ciri khas dan berdaya saing tinggi. Tak perlu harus selalu mencanangkan aktivitas yang serba menguras kocek dan berbau teknologi tinggi. Karena pendidikan tidak melulu soal kecanggihan, namun lebih ke arah tingginya moralitas dan kreativitas.

Bojonegoro, 13 Januari 2023

12 Januari, 2023

,

Cecek Turu

Cecek Turu
(Hari Kesepuluh Masuk Sekolah)
Oleh: Ajun Pujang Anom


Tak ada afdol rasanya, apabila kegiatan Sarapan Pagi tak ada geliat bacanya. Makanya untuk itu, saya bikin pula aktivitas pendampingnya bernama Cecek Turu. Kok masih pakai nama hewan? Iya biar nyambung aja. Apalagi Cecek Turu ini merupakan kependekan dari Cerita-cerita Kekinian untuk Ditiru. "Ditiru" di sini maksudnya adalah agar anak-anak menjumput nilai-nilai positif yang dimunculkan. Dan mampu diaplikasikan dalam kehidupan nyata sehari-hari, bukan sekadar slogan semata.

Untuk kegiatan Cecek Turu ini, sengaja saya buat setiap hari berdasarkan bahan ajar yang ada. Dan dicetak terbatas, cukup dua eksemplar saja. Alasannya simpel, hemat dan melatih anak-anak bergantian membaca. Agar nantinya terbiasa mengembangkan sikap sabar dalam menunggu antrian, tidak suka main menyerobot. Dan dampak lainnya, anak-anak dapat memupuk jiwa syukur secara tidak langsung.

Materi yang disuguhkan di lembar cerita tersebut, hanya mengambil dari satu bidang studi saja. Tidak semuanya. Hal ini bertujuan, agar anak lebih fokus dan gampang memahami. Untuk itu, kali ini materi yang diusung seputar pubertas. Tentu sudah bisa ditebak, bahwa materi ini berasal dari pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.

Semua tokoh cerita yang dihadirkan di sini berpusar pada keluarga Pak Rangga dan Bu Isti, beserta kedua anak kembarnya. Yaitu Haidar dan Yuna. Kedua anak ini berada di kelas enam. Sedangkan setting latarnya, kebanyakan berkisar di rumah dan tempat mereka bersekolah.

Untuk cerita awal, yang diangkat berkisah tentang pemanfaatan aplikasi pengubah wajah. Dan bagaimana riuhnya saat kedua anak itu mengetahuinya pertama kali. Mereka berdua, tidak saja menyimpan hasil dari "rekayasa" muka mereka di gawai. Namun juga mempostingnya ke dalam akun sosial masing-masing. Selain itu, dicetak dan ditempel di dinding kamar mereka. Dan beginilah cuplikan kisahnya.

"Bun, bun, ini mau aku tanya?, kata Yuna kepada ibunya. Ibunya pun membalas, "Mau tanya apa?"

"Ini kan pak guru ngasih PR. Ada satu soal yang aku tak mengerti", tukas Yuna.

"Gimana soalnya?" tanya ibunya.

"Begini lho soalnya, Apa sebutan lain dari menstruasi?" ujar Yuna. Ibunya mengernyitkan dahinya lalu membalas, "Ada pilihannya nggak?"

"Ada, Bun?" ujar Yuna.

"Ini lho pilihannya, a. Datang bulan, b. Datang tak diundang, c. Datang terlambat, dan d. Datang lebih awal", lanjutnya.

"Wah, wah, gurumu lucu juga ya? Pertanyaannya kok kayak gitu", kata ibunya.

"Iya sih pak guru, emang orangnya humoris. Tapi ini beneran kan soalnya?" tanya Yuna sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Ibu pun membalas dengan tersenyum, lalu menjawab, "Iya dong. Itu jawabnya mudah. Jawabnya adalah datang bulan".

Yuna agak terkejut mendengarnya, kemudian bertanya, "Kok bisa datang bulan, Bun?"

"Karena memang datangnya, seringkali tiap bulan. Makanya disebut datang bulan", ulas ibu dengan bijak.

Demikianlah sekilas ceritanya. Dan ceritanya ini memang "diusahakan" seperti keadaan riil sehari-hari. Dengan gaya bahasa yang tentu tak formal. Namun tetap mudah dimengerti.

Bojonegoro, 12 Januari 2023

11 Januari, 2023

,

Sapi Lemu

Sapi Lemu
(Hari Kesembilan Masuk Sekolah)
Oleh: Ajun Pujang Anom


Kemarin siang, setelah menuliskan soal untuk Sarapan Pagi, saya berpikir untuk membuat singkatan untuk kegiatan ini biar lebih menarik. Dan kebetulan anak-anak baru belajar tentang Cangkriman Wantah. Sebuah materi pada mupel Basa Jawa, yang mengulik tebakan berdasarkan akronim. Dengan begitu saya pikir, kalau dibuat jadi nge-match. Akhirnya ketemu istilah Sapi Lemu. Sapi Lemu ini dipendekkan dari Sarapan Pagi dengan Lembar Uraian.

Namun sayangnya belum kesampaian dilaksanakan di hari ini, sebab Lembar Uraiannya belum kebuat. Jadi akhirnya ditulis di buku tulis saja. Tapi tak masalah kan? Yang esensi dari program ini mampu berjalan. Dan dapat mengukur sejauhmana pemahaman materi yang akan diajarkan. Dari hasil yang ada, skor rata-rata mencapai 80. Sebuah pencapaian yang lumayan bagus, bukan?

Kelar jam sekolah, saya kepikiran soal pemakaian lembar uraian tadi. Apakah cocok diterapkan? Karena jika dilakukan, jelas butuh kertas yang banyak. Dan itu jauh dari kata hemat. Mau pakai kertas bekas, yang sisi sebelahnya masih kosong kelompong, kok nggak asyik kelihatannya. Kalau tidak memakai lembar uraian, singkatannya tak mungkin jadi Sapi Lemu. Harus diketemukan singkatan lainnya yang lebih pas dan punya daya dukung terhadap "realitas".

Alhamdulillah, akhirnya nemu kata Sapi Udik. Kependekan dari Sarapan Pagi untuk ditulis di Buku. Agak maksa ya? Tapi saya rasa tak apalah. Daripada tak ada yang unik dan sesuai dengan yang diinginkan. Tentu tak cuma Sapi Udik dong, kudu ada teman seiringnya. Sebab ke depan, kemasan Sarapan Pagi mempunyai konsep yang berbeda-beda.

Kemudian nongol Sapi Ilang atawa Sarapan Pagi secara Lisan dan Langsung. Yang mana terlihat dalam lakuannya menjauhi perbuatan tulis-menulis. Dan ini bukannya tidak baik. Ini justru menguatkan kemampuan tulis. Jika anak sudah terbiasa dengan komunikasi secara verbal. Lalu di-back up oleh kemampuan secara tekstual. Tentu akan berdampak pada kondisi masa depannya. Anak tersebut akan mudah beradaptasi dan menaklukkan tantangan yang ada. Dan bukankah tujuan pendidikan secara mendasar adalah hal itu?

Bojonegoro, 11 Januari 2023

10 Januari, 2023

,

Guru Nanyeaa?

Guru Nanyeaa?
(Hari Kedelapan Masuk Sekolah)
Oleh: Ajun Pujang Anom)

Akhirnya di hari kedelapan, pertanyaan "Apakah kalian belajar tadi malam?", muncul. Tentu setiap guru paham akan situasi dimana pertanyaan bertuah ini dihadirkan. Dan jika jawaban dari pertanyaan ini adalah "tidak", maka pertanyaan lanjutannya hanya berubah waktunya saja. Dari waktu malam ke sore hari. Dan lagi-lagi, bila balasannya adalah "tidak". Pasti harus ada tindakan yang solutif. Bukan menerbitkan kemarahan yang tercetak di muka dan suara.

Dan saya sebagai guru, sangat-sangat terkejut, dari dua jawaban di atas, sama-sama terjawab "tidak" oleh seluruh kelas. Seperti yang sudah-sudah, biasanya ada satu-dua siswa yang masih punya kesadaran sebagai siswa, untuk belajar. Lha ini tidak lho. Apa ini sebuah prestasi? Sebab seluruh murid memiliki *semangat kebersaman*. Punya rasa kesetia-kawanan sosial yang tinggi.

Efek dari terkejut ini adalah bikin saya tenger-tenger. Dan bertanya dalam benak, "Kok bisa gini ya murid-murid?" Namun saya tak dapat terjerembab dalam kalimat tanya seperti ini. Saya harus secepatnya mencari akal untuk memicu mereka berminat di malam sebelumnya untuk--minimal--baca-baca sekilas bukunya.

Tetiba mengemuka gagasan untuk merilis aktivitas Sarapan Pagi. Sebuah kegiatan di awal pembelajaran yang dapat menyegarkan pikiran. Untuk awal-awal, akan saya berikan setiap pagi lima buah pertanyaan yang berasal dari materi yang akan dipelajari di hari itu. Lima buah pertanyaan ini, sedapat mungkin mengadopsi pertanyaan berpola ADIKSIMBA (Apa, Dimana, Kapan, Siapa, Mengapa, Bagaimana, dan Berapa).

Jika hal ini telah berjalan dua minggu, maka formatnya akan dirubah. Bisa datang dari saya ataupun dari mereka. Termasuk membuat kemasannya menjadi serupa edugame. Saya rasa dengan nuansa permainan yang edukatif, kegairahan belajar akan meningkat pesat. Semoga saja demikian.

Bojonegoro, 10 Januari 2023