Socrates: "Salam, kawan. Kulihat kau selalu berada di garis depan setiap kejadian, mencatat dengan cepat apa yang dikatakan orang-orang penting. Katakan padaku, apakah kau seorang saksi atau seorang pelukis?"
Wartawan: (Tersinggung sedikit) "Aku adalah seorang wartawan, Mbah Tes! Tugasku bukan melukis fantasi, melainkan menyampaikan fakta yang nyata kepada publik. Aku adalah mata dan telinga bagi rakyat Athena."
Socrates: "Mata dan telingamu, sungguh mulia. Tapi bantulah aku memahami: apakah mata yang kau gunakan itu benar-benar milikmu, atau kau hanya meminjamkan matamu pada orang lain untuk melihat apa yang ingin mereka lihat?"
Wartawan: "Apa maksudmu? Aku menulis apa yang kulihat dan kudengar. Itu nyata, bukan rekayasa."
Socrates: "Mari kita uji. Jika kau melihat seorang pemuda berteriak di pasar, kau mencatatnya sebagai kerusuhan.Tetapi jika kau tidak mencatat bahwa pemuda itu baru saja dirampok, apakah beritamu masih nyata? Ataukah kau sedang merekayasa sebuah kemarahan tanpa sebab?"
Wartawan: "Tentu aku harus mencatat konteksnya. Tapi terkadang ruang di papirusku terbatas, Mbah Tes. Aku harus memilih mana yang paling menarik."
Socrates: "Ah, menarik. Jadi, kau bukan menyajikan seluruh kebenaran, melainkan potongan-potongan yang menurutmu akan laku? Jika demikian, apakah kau masih bisa disebut pembawa berita yang asli, atau kau hanyalah seorang penghibur yang menggunakan fakta sebagai kostumnya?"
Wartawan: (Mulai gelisah) "Aku tetap wartawan asli selama apa yang kutulis memang terjadi. Lagipula, aku bekerja untuk sebuah lembaga berita besar. Mereka yang membiayai perjalananku dan papirusku."
Socrates: "Nah, di sinilah letak teka-tekinya. Katakan padaku, jika lembaga beritamu dimiliki oleh seorang pedagang kaya yang sangat membenci pemerintah, apakah kau akan tetap berani menulis bahwa kebijakan pemerintah itu menguntungkan rakyat kecil?"
Wartawan: "Aku... aku harus mengikuti garis kebijakan pemilik modal. Bagaimanapun, mereka yang memberiku makan."
Socrates: "Berarti, jika kau harus memilih antara kejujuran yang pahit atau pesanan yang manis dari tuanmu, manakah yang akan kau tulis di papirus itu? Apakah kau berpihak pada kebenaran yang tidak punya uang, atau pada penguasa yang punya peti emas?"
Wartawan: "Aku mencoba untuk adil, Mbah Tes. Tapi di dunia nyata, tidak ada yang benar-benar bebas."
Socrates: "Jika kau tidak bebas, bukankah kau hanyalah corong suara orang lain? Jika tulisanmu adalah pesanan, bukankah itu berarti kau bukan pembawa berita, melainkan pembawa propaganda?"
Wartawan: "Tapi rakyat butuh informasi!"
Socrates: "Rakyat butuh kebenaran, bukan sekadar informasi yang sudah dibumbui. Katakan padaku, kawan, mana yang lebih berbahaya bagi sebuah negara: rakyat yang tidak tahu apa-apa, atau rakyat yang percaya pada kebohongan yang kau bungkus dengan label berita?"
Wartawan: (Terdiam, menatap gulungan papirusnya yang kosong) "Kau membuatku merasa seperti seorang pengkhianat bagi profesiku sendiri."
Socrates: "Jangan bersedih, kawan. Mungkin ini saatnya kau bertanya pada dirimu sendiri setiap kali hendak menulis, 'Apakah aku sedang memberikan cahaya bagi rakyat, atau aku sedang membangun bayangan untuk menyembunyikan sesuatu?' Karena martabat seorang wartawan bukan terletak pada seberapa banyak orang yang membaca tulisannya, melainkan pada seberapa berani ia berdiri tegak demi kebenaran, meskipun pemilik modal dan penguasa mencoba membengkokkan penanya."
Agora Athena, 8 Januari 2026
Ajun Pujang Anom