02 Januari, 2026

, ,

Socrates Ketemu Seorang Pengarang


Sore ini Socrates (kita sebut Mbah Tes), ketemu seorang pengarang dan bertanya-jawab soal menulis. 

Socrates: "Wahai kawan, aku melihatmu begitu asyik menggerakkan jemarimu di atas lembaran papirus itu. Katakan padaku, apa sebenarnya yang sedang kau lakukan?"

Pengarang: "Aku sedang menulis, Mbah Tes. Aku sedang mengabadikan pikiran agar tidak hilang ditelan waktu."

Socrates: "Menulis? Sungguh luar biasa. Tapi bantulah aku yang bodoh ini untuk mengerti: apakah menulis itu berarti kau sedang memindahkan isi kepalamu ke dalam benda mati itu?"

Pengarang: "Bisa dikatakan begitu. Menulis adalah cara kita menyampaikan kebenaran kepada orang lain, bahkan kepada mereka yang belum lahir. Itulah manfaat terbesarnya: keabadian ilmu."

Socrates: "Jawaban yang indah. Namun, izinkan aku bertanya satu hal. Jika aku bertanya pada tulisanmu ini tentang "mengapa" ia mengatakan demikian, apakah ia akan menjawabku?"

Pengarang: "Tentu saja tidak, Mbah Tes. Ia tetap diam. Kau harus membacanya lagi untuk memahaminya."

Socrates: "Jadi, tulisan itu seperti lukisan? Ia tampak hidup, tetapi jika ditanya, ia tetap bungkam?"

Pengarang: "Ya, memang begitu sifatnya."

Socrates: "Kalau begitu, bukankah menulis memiliki bahaya? Jika seseorang yang tidak paham membaca tulisanmu dan salah mengerti, apakah tulisan itu bisa membela dirinya sendiri? Apakah ia bisa menjelaskan maksudnya kepada si pembaca yang keliru itu?"

Pengarang: (Mulai ragu) "Tidak, ia tidak bisa membela diri. Penulisnya lah yang harus melakukannya."

Socrates: "Maka, jika penulisnya sudah tiada, bukankah tulisan itu menjadi yatim piatu yang bisa disalahgunakan oleh siapa saja? Dan katakan padaku kawan, apakah dengan menulis, manusia akan menjadi lebih ingat, atau justru menjadi lebih pelupa?"

Pengarang: "Tentu saja lebih ingat, Mbah Tes! Karena semuanya sudah tercatat."

Socrates: "Benarkah? Ataukah mereka justru berhenti melatih ingatan mereka karena merasa "pengetahuan" itu sudah ada di luar kepala mereka, di atas kertas itu? Bukankah itu hanya memberikan penampakan kebijaksanaan, dan bukan kebijaksanaan yang sesungguhnya di dalam jiwa?"

Pengarang: (Terpaku sejenak) "Kau membuat menulis tampak seperti racun bagi ingatan. Lalu, apakah menurutmu menulis itu sama sekali tidak bermanfaat?"

Socrates: "Aku tidak mengatakan itu. Namun, mungkin menulis bermanfaat bukan untuk "menyimpan" kebenaran, melainkan sebagai cermin. Dengan menulis, kau dipaksa melihat pikiranmu sendiri yang kacau menjadi tersusun. Bukankah begitu?"

Pengarang: "Benar! Saat aku menulis, aku baru sadar betapa banyak lubang dalam pikiranku yang harus aku tambal."

Socrates: "Nah! Jadi, mungkinkah manfaat menulis yang sejati bukanlah untuk mengajari orang lain (karena hanya dialektika hidup yang bisa mengajar), melainkan untuk menguji diri sendiri? Menulis adalah cara kita berbicara dengan diri kita yang paling jujur di atas kertas?"

Pengarang: "Aku tidak pernah memandangnya seperti itu, Mbah Tes. Menulis ternyata bukan tentang menjadi abadi, melainkan tentang menjadi sadar akan pikiran sendiri."

Agora Athena, 2 Januari 2026

Ajun Pujang Anom

0 komentar:

Posting Komentar