Tampilkan postingan dengan label rumah tangga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rumah tangga. Tampilkan semua postingan

07 Januari, 2026

, ,

Socrates Ketemu Seorang Ibu Rumah Tangga


Pagi ini Socrates (kita sebut Mbah Tes), ketemu seorang ibu rumah tangga dan bertanya-jawab soal kebutuhan hidup. 

Socrates: (Berdiri tegak di samping seorang ibu) "Mengapa kau menatap koin-koin itu seolah-olah mereka adalah musuh yang baru saja mengkhianatimu di medan perang?"

Ibu Rumah Tangga: (Kaget, menoleh dengan ketus) "O, Mbah Tes! Kau berdiri di situ seperti patung marmer. Koin-koin ini memang pengkhianat! Lihatlah, jumlahnya tetap sama sejak tahun lalu, tapi kantong gandum ini menyusut ukurannya. Suamiku bekerja seperti keledai, tapi upahnya tak pernah naik barang sepeser pun!"

Socrates: "Sungguh sebuah teka-teki. Katakan padaku, manakah yang lebih berat: beban gandum yang harganya naik di pundakmu, atau beban pikiran tentang upah suamimu yang diam di tempat?"

Ibu Rumah Tangga: "Dua-duanya berat! Tapi yang lebih menyesakkan adalah saat aku pulang nanti. Anak-anak sudah menunggu seperti burung pipit yang lapar. Yang kecil minta manisan madu, yang tengah minta mainan kereta kayu, dan si sulung—bayangkan!—dia sudah minta kawin! Padahal untuk beli minyak zaitun saja aku harus memeras keringat."

Socrates: (Mengelus janggutnya) "Mari kita telusuri satu hal. Mengenai anak-anakmu yang rewel itu; apakah menurutmu mereka merengek karena mereka benar-benar butuh mainan dan pernikahan, atau karena mereka melihat jiwamu yang gelisah sehingga mereka ikut merasa tidak tenang?"

​Ibu Rumah Tangga: "Jangan bicara filsafat padaku sekarang, Mbah Tes! Mereka merengek karena mereka ingin! Dunia ini kejam, barang-barang makin mahal, dan kebutuhan mereka tidak ada habisnya."

Socrates: "Jika aku memberimu sekarung emas sekarang, apakah anakmu akan berhenti meminta? Ataukah besok dia akan meminta kereta kuda sungguhan dan pernikahan yang lebih megah dari pesta Pericles?"

Ibu Rumah Tangga: "Yah... mungkin saja dia akan minta lebih. Anak-anak memang tak pernah puas."

Socrates: "Kalau begitu, apakah masalahnya ada pada harga barang yang melangit, atau pada keinginan yang tidak memiliki atap? Jika kau tak bisa menurunkan harga gandum, bukankah lebih mudah melatih anak-anakmu untuk memiliki jiwa yang kuat terhadap keinginan?"

Ibu Rumah Tangga: "Lalu bagaimana dengan si sulung yang minta kawin itu? Dia belum punya rumah, belum punya tabungan, tapi sudah mau memboyong istri!"

Socrates: "Katakan padanya, pernikahan bukan sekadar menyatukan dua raga dalam satu atap yang mahal, tapi menyatukan dua pikiran untuk mencari kebenaran. Jika dia bisa memberi makan istrinya dengan kebijaksanaan saat gandum sedang mahal, maka dia siap menikah. Jika tidak, suruh dia belajar berpuasa dulu bersamaku."

Ibu Rumah Tangga: (Tersenyum getir) "Berpuasa bersamamu artinya kami semua akan mati kelaparan sambil berdiskusi! Tapi... kau benar soal satu hal. Kekhawatiranku tidak membuat harga gandum turun."

Socrates: "Tepat. Harga barang ada di tangan para pedagang, tapi kedamaian hatimu ada di tanganmu sendiri. Jadi, apakah kau akan pulang sebagai budak dari koin-koin ini, atau sebagai ratu atas keinginanmu sendiri?"

Ibu Rumah Tangga: (Memasukkan koinnya ke saku dengan mantap) "Aku akan pulang sebagai ibu yang galak, Mbah Tes! Anak-anak akan kuberitahu: tidak ada mainan, tidak ada kawin sebelum kalian bisa membedakan mana butuh dan mana ingin seperti kamu, kakek tua botak!"

Socrates: (Tertawa) "Nah, itu baru namanya pendidikan yang mulia!"


Agora Athena, 7 Januari 2026
Ajun Pujang Anom