04 Januari, 2026

, ,

Socrates Ketemu Seorang Anak Kecil


Pagi ini Socrates (kita sebut Mbah Tes), ketemu seorang anak kecil dan bertanya-jawab soal bermain. 

Socrates: "Hai anak kecil, aku perhatikan kau begitu tekun dengan batu-batu itu. Apakah kau sedang menjalankan perintah dari rajamu untuk membangun bendungan yang kokoh?"

Anak Kecil: (Tertawa) "Tidak, Mbah Tes. Aku tidak punya raja. Aku cuma sedang bermain."

Socrates: "Bermain? Bantu aku memahaminya. Apakah bermain itu adalah sebuah pekerjaan yang melelahkan? Kulihat keringat menetes di dahimu."

Anak Kecil: "Capek sih, Mbah Tes. Tapi ini bukan kerja. Kalau kerja itu kan karena disuruh ibu atau guru. Kalau ini, aku sendiri yang mau."

Socrates: "Oh! Jadi perbedaannya ada pada siapa yang memerintah? Jika kau melakukan hal yang sama karena disuruh, itu disebut kerja. Namun jika kau melakukannya karena keinginanmu sendiri, itu disebut bermain?"

Anak Kecil: "Mungkin begitu. Dan lagi, kalau main itu tidak harus jadi apa-apa. Nanti kalau aku pulang, bendungan ini pasti hancur kena air sungai. Tapi aku tidak sedih."

Socrates: "Ini sungguh aneh. Kau membuang tenaga untuk sesuatu yang kau tahu akan hancur? Bukankah itu perbuatan yang sia-sia? Orang dewasa membangun rumah agar mereka bisa tidur di dalamnya. Apa yang kau dapatkan dari bendungan yang akan hancur ini?"

Anak Kecil: "Aku dapat "serunya", Mbah Tes! Saat aku mencoba menaruh batu agar airnya tidak lewat, aku harus berpikir. Itu yang asyik."

Socrates: "Menarik sekali. Jadi, bermain bukanlah tentang "hasil akhir" seperti bangunan yang permanen, melainkan tentang "proses" saat kau melakukannya? Kau sedang menguji duniamu, bukan?"

Anak Kecil: "Iya! Aku ingin tahu, kalau batunya kecil, airnya lewat tidak? Kalau batunya besar, bagaimana?"

Socrates: "Kalau begitu, bolehkah aku mengatakan bahwa bermain adalah cara seorang manusia belajar tanpa rasa takut akan kegagalan? Karena bagimu, bendungan yang hancur bukanlah kekalahan, melainkan hanya akhir dari sebuah cerita?"

Anak Kecil: (Mengangguk-angguk) "Betul, Mbah Tes. Tidak ada yang marah kalau bendunganku rusak. Aku cuma tinggal buat lagi yang baru."

Socrates: "Wahai kawan kecil, kau baru saja mengajariku sesuatu yang besar. Mungkin kami, orang-orang tua yang merasa bijaksana ini, sebenarnya sedang iri padamu. Kami terlalu sibuk memikirkan "hasil" dan "kegunaan" sehingga kami lupa bagaimana rasanya mencintai proses hanya karena proses itu sendiri. Jadi, mungkinkah bermain adalah bentuk pendidikan yang paling murni? Di mana jiwamu bebas mencoba, gagal, dan mencoba lagi tanpa beban?"

Anak Kecil: "Entahlah Mbah Tes, aku tidak mengerti kata-kata rumit itu. Aku cuma tahu kalau aku berhenti main, aku tidak akan tahu cara menahan air sungai ini. Kakek mau ikut bantu taruh batu?"

Socrates: (Tersenyum) "Tentu. Mari kita "belajar" menahan air sungai ini bersama-sama."

Sungai Eridanos Athena, 4 Januari 2026
Ajun Pujang Anom

0 komentar:

Posting Komentar