Sore ini Socrates (kita sebut Mbah Tes), ketemu seorang bujangan dan bertanya-jawab soal asmara.
Bujangan: (Menghela napas lagi) "Salam, Mbah Tes. Tidak ada kesedihan yang berarti, hanya... aku sendiri."
Socrates: "Sendiri? Apakah maksudmu kau tidak memiliki teman? Aku melihatmu sering berbicara dengan orang lain di sini."
Bujangan: "Bukan teman, Mbah Tes. Maksudku, aku tidak punya pasangan. Aku seorang jomblo."
Socrates: "Ah,"jomblo. Sebuah kata yang baru bagiku. Apakah itu berarti kau adalah orang yang terpisah dari seekor kuda? Atau terpisah dari sebuah rumah?"
Bujangan: (Tersenyum getir) "Itu berarti aku tidak punya kekasih, Mbah Tes. Tidak ada yang mencintaiku, atau setidaknya, tidak ada yang mau bersamaku."
Socrates: "Menarik. Apakah kau baru saja kehilangan kekasihmu? Apakah ada seseorang yang memutuskannya darimu, seperti sehelai daun yang putus dari rantingnya?"
Bujangan: (Wajahnya semakin murung) "Ya, beberapa waktu lalu. Dia pergi mencari yang lain."
Socrates: "Jika begitu, bukankah kesedihanmu itu wajar? Seperti luka yang baru mengering. Tapi, apakah luka itu yang membuatmu menjadi jomblo sekarang, atau ada hal lain yang kau sembunyikan?"
Bujangan: "Entahlah. Kadang aku merasa seperti... aku tidak laku. Semua temanku sudah punya pasangan, aku saja yang sendiri. Sepertinya tidak ada yang tertarik padaku."
Socrates: "Tidak laku? Apakah kau ini sebuah barang dagangan di pasar, yang harus ditawarkan agar ada yang membeli? Bukankah manusia itu mencari kecocokan jiwa, bukan sekadar harga? Dan, apa yang sudah kau tawarkan dari dirimu sendiri?"
Bujangan: "Aku sudah mencoba, Mbah Tes. Aku sudah berusaha menarik perhatian, tapi selalu gagal. Mungkin aku memang tidak punya pesona."
Socrates: "Pesona? Bukankah pesona sejati itu terpancar dari hati yang tulus dan pikiran yang bijaksana? Atau apakah kau hanya mencoba meniru pesona orang lain, sehingga pesonamu sendiri tertutup?"
Bujangan: (Mulai sedikit berpikir) "Aku juga sering berpikir, mungkin aku terlalu pilih-pilih. Aku punya standar yang tinggi. Aku ingin seseorang yang sempurna."
Socrates: "Sempurna? Katakan padaku, anak muda, apakah kau sendiri sempurna?"
Bujangan: "Tentu saja tidak, Mbah Tes. Aku punya banyak kekurangan."
Socrates: "Jika kau sendiri tidak sempurna, dan kau mencari yang sempurna, bukankah kau sedang mencari sesuatu yang mustahil? Dan jika kau menemukan yang sempurna, apakah ia akan mau dengan yang tidak sempurna sepertimu?"
Bujangan: (Malu) "Kau benar. Itu terdengar bodoh."
Socrates: Jadi, mungkinkah kesendirianmu ini bukan karena tidak laku atau diputusin, tetapi karena harapanmu sendiri yang tidak realistis, atau mungkin karena kau tidak berani melihat kekuranganmu sendiri dan justru mencari kesempurnaan di luar?"
Bujangan: (Menghela napas lagi, tapi kali ini lebih ringan) "Mungkin. Aku selalu berpikir bahwa aku harus menemukan seseorang yang akan melengkapi kekuranganku, atau yang akan membuat hidupku sempurna."
Socrates: "Ah, disitulah letak kekeliruanmu, anak muda. Cinta sejati bukanlah mencari yang sempurna, melainkan mencintai ketidaksempurnaan. Dan bukankah kebahagiaan sejati itu datang dari dalam dirimu sendiri, bukan dari kehadiran orang lain? Jika kau tidak bahagia saat sendiri, mungkinkah kau akan bisa bahagia sepenuhnya dengan orang lain?"
Bujangan: "Jadi, kau bilang aku harus bahagia sendiri dulu, sebelum mencari pasangan?"
Socrates: "Bukan hanya itu, anak muda. Kau harus mengenal dirimu sendiri terlebih dahulu, dengan segala kelemahan dan kekuatanmu. Bukankah sulit bagi orang lain untuk mencintai dirimu jika kau sendiri belum mengenal dan mencintai dirimu? Mungkin kesendirianmu saat ini adalah sebuah kesempatan, bukan kutukan. Kesempatan untuk menjelajahi dirimu, untuk mencari kebijaksanaan, dan untuk menemukan pesona sejatimu yang mungkin selama ini tertutup oleh ketakutan dan harapan yang keliru."
Bujangan: (Mengangguk perlahan) "Aku tidak pernah melihatnya dari sudut pandang itu. Aku selalu merasa kesepian itu adalah sebuah kegagalan. Tapi kau membuatku berpikir, mungkin ini adalah sebuah perjalanan."
Agora Athena, 6 Januari 2026
Ajun Pujang Anom