Siang ini Socrates (kita sebut Mbah Tes), ketemu seorang pejabat dan bertanya-jawab soal pemerintahan.
Socrates: (Menyapa dengan ramah) "Salam, wahai kawan yang tampak sibuk. Gerangan apa yang membuatmu begitu tergesa dengan gulungan-gulungan itu? Apakah kau sedang membawa beban kebijaksanaan negara?"
Pejabat: (Terkejut dan sedikit kesal karena interupsi) "Salam, orang tua. Aku adalah seorang pejabat yang mengurus pemerintahan. Aku sedang memastikan bahwa pemerintahan kita berjalan dengan baik dan bersih, sesuai dengan kaidah pemerintahan yang baik dan pemerintah yang bersih."
Socrates: (Mengernyitkan dahi) "Kata-kata yang terdengar mulia. Namun, tolong jelaskan padaku, apa itu pemerintahan yang baik? Apakah itu semacam masakan lezat yang bisa dinikmati semua warga? Dan pemerintah yang bersih? Apakah itu pemerintahan yang mandi setiap hari sehingga tidak ada kotoran yang menempel?"
Pejabat: (Mencoba bersabar) "Bukan begitu, Mbah Tes. Pemerintahan yang baik berarti pemerintahan yang transparan, bertanggung jawab, partisipatif, dan efektif dalam melayani rakyat. Pemerintah yang bersih berarti pemerintahan yang bebas dari korupsi, penipuan, dan penyalahgunaan kekuasaan."
Socrates: "Aha! Transparan, bertanggung jawab, partisipatif... seperti sebuah bejana tembus pandang yang bisa dilihat isinya oleh semua orang, dan jika ada yang tumpah, pemiliknya langsung mengambil tanggung jawab?"
Pejabat: "Ya, kira-kira begitu. Rakyat berhak tahu apa yang dilakukan pemerintah."
Socrates: "Lalu, jika pemerintah itu transparan, tetapi rakyat tidak peduli untuk melihatnya, atau bahkan tidak mengerti apa yang mereka lihat, apakah itu masih bisa disebut pemerintahan yang baik? Bukankah itu seperti menaruh cermin di hadapan orang buta?"
Pejabat: (Mulai berpikir) "Hmm, partisipasi rakyat memang penting agar mereka ikut mengawasi dan memberikan masukan."
Socrates: "Dan mengenai pemerintah yang bersih, bebas dari korupsi. Katakan padaku, kawan, apa itu korupsi? Apakah itu hanya mencuri uang? Atau apakah itu juga mencuri kepercayaan rakyat dengan janji-janji kosong? Atau mungkin mencuri kebenaran dengan menyembunyikan fakta?"
Pejabat: "Korupsi itu adalah penyalahgunaan jabatan untuk kepentingan pribadi atau kelompok, yang merugikan publik. Itu kejahatan!"
Socrates: "Baiklah. Jika seorang pejabat membuat sebuah keputusan yang secara hukum sah, tetapi keputusan itu menguntungkan teman-temannya secara berlebihan, dan merugikan sebagian kecil rakyat yang tidak punya suara, apakah itu masih bersih di matamu, hanya karena tidak ada uang yang dicuri?"
Pejabat: (Diam sejenak) "Itu... itu adalah area abu-abu, Mbah Tes. Sering disebut konflik kepentingan."
Socrates: "Jadi, pemerintah yang bersih tidak hanya tentang tidak mencuri uang, melainkan juga tentang tidak mencuri keadilan dan kesetaraan? Dan pemerintahan yang baik tidak hanya tentang membuat aturan yang baik, tetapi juga tentang menumbuhkan warga negara yang peduli dan bijaksana agar mau berpartisipasi dan mengawasi?"
Pejabat: "Kau membuat ini lebih kompleks dari yang kupikirkan. Kami mencoba menerapkan sistem agar semuanya berjalan otomatis."
Socrates: "Sistem, kawan, hanyalah alat. Bukankah sebuah pemerintahan yang baik dan bersih itu pada dasarnya bermula dari hati dan pikiran orang-orang yang menjalankannya? Jika hati itu serakah, dan pikiran itu dangkal, sehebat apapun sistemnya, bukankah ia akan tetap kotor? Dan jika rakyatnya tidak punya kebajikan, apakah mereka akan memilih pemimpin yang bersih dan bijaksana?"
Pejabat: (Meletakkan gulungan-perkamennya) "Kau benar, Mbah Tes. Kami sering terlalu fokus pada aturan dan prosedur, dan melupakan bahwa fondasi dari pemerintahan yang baik dan pemerintah yang bersih yang sejati adalah kebajikan dan integritas dalam setiap warga negara, dari yang paling bawah hingga yang paling atas. Tanpa itu, semua aturan dan sistem hanyalah topeng."
Socrates: "Nah! Mungkin tugas kita bukanlah hanya membuat aturan yang sempurna, melainkan menanamkan kebajikan dan cinta akan keadilan di dalam jiwa setiap warga negara, termasuk para pejabat seperti dirimu. Bukankah itu pekerjaan yang lebih mulia dan abadi?"
Agora Athena, 5 Januari 2026
Ajun Pujang Anom