14 Januari, 2026
12 Januari, 2026
Socrates Ketemu Seorang Warganet
Sore ini Socrates (kita sebut Mbah Tes), ketemu seorang warganet dan bertanya-jawab soal kegiatannya di dunia maya.
Socrates: (Mendekati seorang anak muda yang tampak sibuk menggeser jarinya) Salam, anak muda. Apa gerangan yang membuatmu begitu terpaku pada benda bercahaya di tanganmu itu? Apakah kau sedang berbicara dengan para dewa?
Warganet: (Terkejut, menurunkan tabletnya) Bukan, Mbah Tes. Aku sedang melihat-lihat "dunia" di dalam benda ini. Aku sedang berinteraksi dengan warganet lain.
Socrates: Warganet? Apakah mereka adalah warga negara lain yang sangat kecil sehingga bisa masuk ke dalam benda itu? Dan mengapa kulihat mereka seringkali tampak sangat yakin dengan apa yang mereka katakan? Bukankah itu berbahaya?
Warganet: (Menghela napas) Di sini, Mbah Tes, semua orang merasa paling benar. Mereka percaya pada informasi yang mereka dapatkan dan tidak mau disalahkan. Semua orang punya "pendapat" dan merasa itu kebenaran mutlak.
Socrates: Aha! Jadi, tempat itu adalah sebuah pasar di mana setiap orang menawarkan "kebenaran" mereka sendiri, dan mengklaimnya sebagai satu-satunya yang asli? Tapi, bagaimana mungkin semua orang benar, jika kebenaran itu biasanya hanya ada satu? Apakah tidak ada yang mau bertanya dan mencari tahu lebih dalam?
Warganet: Jarang sekali, Mbah Tes. Justru, kadang mereka suka berkata kasar, berdebat sengit, atau bahkan menyerang orang lain hanya karena beda pendapat. Rasanya seperti ada topeng di balik setiap nama, yang membuat mereka berani berkata apa saja.
Socrates: Sebuah topeng? Jadi, di dunia ini, orang-orang menyembunyikan wajah mereka agar bisa berbicara tanpa rasa malu? Apakah menurutmu kata-kata kasar itu lahir dari keberanian, atau dari ketakutan akan dihakimi jika wajah aslinya terlihat?
Warganet: Mungkin dari ketakutan, atau mungkin karena mereka tahu tidak akan ada konsekuensi nyata. Tapi anehnya, Mbah Tes, meskipun kadang brutal, warganet ini juga memiliki sisi lain yang menakjubkan.
Socrates: Oh? Ceritakanlah kepadaku.
Warganet: Saat ada ketidakadilan, mereka bisa bersatu dengan cepat. Saat ada berita palsu atau rekayasa dari pemerintah atau media besar, mereka bisa membongkarnya, bahkan mengalahkan para detektif atau jurnalis yang asli. Mereka seringkali lebih cepat dalam mengungkap kebenaran yang disembunyikan.
Socrates: (Wajahnya berubah serius) Sungguh? Jadi, mereka bisa melihat kebohongan yang tersembunyi? Bukankah itu adalah kekuatan yang luar biasa? Seperti seekor anjing pelacak yang bisa menemukan jejak meskipun sudah terhapus?
Warganet: Betul! Dan saat ada bencana atau musibah, empati mereka luar biasa. Mereka bisa mengumpulkan bantuan dengan sangat cepat, saling mendukung, dan menyebarkan informasi penting yang tidak dijangkau media lain. Mereka sangat cepat tanggap.
Socrates: Ini membingungkan sekali. Bagaimana mungkin sebuah kumpulan orang yang sering merasa benar sendiri, berkata kasar, dan bersembunyi di balik topeng, bisa secara bersamaan memiliki kemampuan luar biasa untuk mengungkap kebenaran dan menunjukkan empati yang tulus? Apakah mereka dua jiwa dalam satu raga?
Warganet: Aku juga bingung, Mbah Tes. Seperti ada dua sisi mata uang yang sangat ekstrem.
Socrates: Mungkinkah, bahwa "topeng" yang kau sebutkan itu bukan hanya menyembunyikan identitas, tetapi juga melepaskan batasan-batasan yang biasanya mengikat manusia di dunia nyata?
Agora Athena, 12 Januari 2026
Ajun Pujang Anom
10 Januari, 2026
Socrates Ketemu Seorang Penganggur
09 Januari, 2026
Socrates Ketemu Seorang Wartawan
07 Januari, 2026
Socrates Ketemu Seorang Ibu Rumah Tangga
06 Januari, 2026
Socrates Ketemu Seorang Bujangan
05 Januari, 2026
Socrates Ketemu Seorang Pejabat
04 Januari, 2026
Socrates Ketemu Seorang Anak Kecil
03 Januari, 2026
Socrates Ketemu Seorang Guru
02 Januari, 2026
Socrates Ketemu Seorang Pengarang
Sore ini Socrates (kita sebut Mbah Tes), ketemu seorang pengarang dan bertanya-jawab soal menulis.
Socrates: "Wahai kawan, aku melihatmu begitu asyik menggerakkan jemarimu di atas lembaran papirus itu. Katakan padaku, apa sebenarnya yang sedang kau lakukan?"
Pengarang: "Aku sedang menulis, Mbah Tes. Aku sedang mengabadikan pikiran agar tidak hilang ditelan waktu."
Socrates: "Menulis? Sungguh luar biasa. Tapi bantulah aku yang bodoh ini untuk mengerti: apakah menulis itu berarti kau sedang memindahkan isi kepalamu ke dalam benda mati itu?"
Pengarang: "Bisa dikatakan begitu. Menulis adalah cara kita menyampaikan kebenaran kepada orang lain, bahkan kepada mereka yang belum lahir. Itulah manfaat terbesarnya: keabadian ilmu."
Socrates: "Jawaban yang indah. Namun, izinkan aku bertanya satu hal. Jika aku bertanya pada tulisanmu ini tentang "mengapa" ia mengatakan demikian, apakah ia akan menjawabku?"
Pengarang: "Tentu saja tidak, Mbah Tes. Ia tetap diam. Kau harus membacanya lagi untuk memahaminya."
Socrates: "Jadi, tulisan itu seperti lukisan? Ia tampak hidup, tetapi jika ditanya, ia tetap bungkam?"
Pengarang: "Ya, memang begitu sifatnya."
Socrates: "Kalau begitu, bukankah menulis memiliki bahaya? Jika seseorang yang tidak paham membaca tulisanmu dan salah mengerti, apakah tulisan itu bisa membela dirinya sendiri? Apakah ia bisa menjelaskan maksudnya kepada si pembaca yang keliru itu?"
Pengarang: (Mulai ragu) "Tidak, ia tidak bisa membela diri. Penulisnya lah yang harus melakukannya."
Socrates: "Maka, jika penulisnya sudah tiada, bukankah tulisan itu menjadi yatim piatu yang bisa disalahgunakan oleh siapa saja? Dan katakan padaku kawan, apakah dengan menulis, manusia akan menjadi lebih ingat, atau justru menjadi lebih pelupa?"
Pengarang: "Tentu saja lebih ingat, Mbah Tes! Karena semuanya sudah tercatat."
Socrates: "Benarkah? Ataukah mereka justru berhenti melatih ingatan mereka karena merasa "pengetahuan" itu sudah ada di luar kepala mereka, di atas kertas itu? Bukankah itu hanya memberikan penampakan kebijaksanaan, dan bukan kebijaksanaan yang sesungguhnya di dalam jiwa?"
Pengarang: (Terpaku sejenak) "Kau membuat menulis tampak seperti racun bagi ingatan. Lalu, apakah menurutmu menulis itu sama sekali tidak bermanfaat?"
Socrates: "Aku tidak mengatakan itu. Namun, mungkin menulis bermanfaat bukan untuk "menyimpan" kebenaran, melainkan sebagai cermin. Dengan menulis, kau dipaksa melihat pikiranmu sendiri yang kacau menjadi tersusun. Bukankah begitu?"
Pengarang: "Benar! Saat aku menulis, aku baru sadar betapa banyak lubang dalam pikiranku yang harus aku tambal."
Socrates: "Nah! Jadi, mungkinkah manfaat menulis yang sejati bukanlah untuk mengajari orang lain (karena hanya dialektika hidup yang bisa mengajar), melainkan untuk menguji diri sendiri? Menulis adalah cara kita berbicara dengan diri kita yang paling jujur di atas kertas?"
Pengarang: "Aku tidak pernah memandangnya seperti itu, Mbah Tes. Menulis ternyata bukan tentang menjadi abadi, melainkan tentang menjadi sadar akan pikiran sendiri."
Agora Athena, 2 Januari 2026
Ajun Pujang Anom