14 Januari, 2026

12 Januari, 2026

, ,

Socrates Ketemu Seorang Warganet



Sore ini Socrates (kita sebut Mbah Tes), ketemu seorang warganet dan bertanya-jawab soal kegiatannya di dunia maya. 

Socrates: (Mendekati seorang anak muda yang tampak sibuk menggeser jarinya) Salam, anak muda. Apa gerangan yang membuatmu begitu terpaku pada benda bercahaya di tanganmu itu? Apakah kau sedang berbicara dengan para dewa?

Warganet: (Terkejut, menurunkan tabletnya) Bukan, Mbah Tes. Aku sedang melihat-lihat "dunia" di dalam benda ini. Aku sedang berinteraksi dengan warganet lain.

Socrates: Warganet? Apakah mereka adalah warga negara lain yang sangat kecil sehingga bisa masuk ke dalam benda itu? Dan mengapa kulihat mereka seringkali tampak sangat yakin dengan apa yang mereka katakan? Bukankah itu berbahaya?

Warganet: (Menghela napas) Di sini, Mbah Tes, semua orang merasa paling benar. Mereka percaya pada informasi yang mereka dapatkan dan tidak mau disalahkan. Semua orang punya "pendapat" dan merasa itu kebenaran mutlak.

Socrates: Aha! Jadi, tempat itu adalah sebuah pasar di mana setiap orang menawarkan "kebenaran" mereka sendiri, dan mengklaimnya sebagai satu-satunya yang asli? Tapi, bagaimana mungkin semua orang benar, jika kebenaran itu biasanya hanya ada satu? Apakah tidak ada yang mau bertanya dan mencari tahu lebih dalam?

Warganet: Jarang sekali, Mbah Tes. Justru, kadang mereka suka berkata kasar, berdebat sengit, atau bahkan menyerang orang lain hanya karena beda pendapat. Rasanya seperti ada topeng di balik setiap nama, yang membuat mereka berani berkata apa saja.

Socrates: Sebuah topeng? Jadi, di dunia ini, orang-orang menyembunyikan wajah mereka agar bisa berbicara tanpa rasa malu? Apakah menurutmu kata-kata kasar itu lahir dari keberanian, atau dari ketakutan akan dihakimi jika wajah aslinya terlihat?

Warganet: Mungkin dari ketakutan, atau mungkin karena mereka tahu tidak akan ada konsekuensi nyata. Tapi anehnya, Mbah Tes, meskipun kadang brutal, warganet ini juga memiliki sisi lain yang menakjubkan.

Socrates: Oh? Ceritakanlah kepadaku.

Warganet: Saat ada ketidakadilan, mereka bisa bersatu dengan cepat. Saat ada berita palsu atau rekayasa dari pemerintah atau media besar, mereka bisa membongkarnya, bahkan mengalahkan para detektif atau jurnalis yang asli. Mereka seringkali lebih cepat dalam mengungkap kebenaran yang disembunyikan.

Socrates: (Wajahnya berubah serius) Sungguh? Jadi, mereka bisa melihat kebohongan yang tersembunyi? Bukankah itu adalah kekuatan yang luar biasa? Seperti seekor anjing pelacak yang bisa menemukan jejak meskipun sudah terhapus?

Warganet: Betul! Dan saat ada bencana atau musibah, empati mereka luar biasa. Mereka bisa mengumpulkan bantuan dengan sangat cepat, saling mendukung, dan menyebarkan informasi penting yang tidak dijangkau media lain. Mereka sangat cepat tanggap.

Socrates: Ini membingungkan sekali. Bagaimana mungkin sebuah kumpulan orang yang sering merasa benar sendiri, berkata kasar, dan bersembunyi di balik topeng, bisa secara bersamaan memiliki kemampuan luar biasa untuk mengungkap kebenaran dan menunjukkan empati yang tulus? Apakah mereka dua jiwa dalam satu raga?

Warganet: Aku juga bingung, Mbah Tes. Seperti ada dua sisi mata uang yang sangat ekstrem.

Socrates: Mungkinkah, bahwa "topeng" yang kau sebutkan itu bukan hanya menyembunyikan identitas, tetapi juga melepaskan batasan-batasan yang biasanya mengikat manusia di dunia nyata?

Agora Athena, 12 Januari 2026

Ajun Pujang Anom


10 Januari, 2026

, ,

Socrates Ketemu Seorang Penganggur

Sore ini Socrates (kita sebut Mbah Tes), ketemu seorang pengganggur dan bertanya-jawab soal pengangguran. 

Socrates: "Salam, anak muda. Matahari sudah tinggi, dan aku melihat semua orang di pasar ini sibuk dengan urusan mereka. Si tukang besi berkeringat menempa logam, si pedagang berteriak menawarkan buah zaitun. Namun engkau duduk di sini, diam seperti patung di kuil. Gerangan apa yang sedang kau kerjakan?"

Penganggur: (Menoleh dengan sedikit kesal) "Aku sedang berpikir, Mbah Tes. Itu juga sebuah pekerjaan, bukan?"

Socrates: "Tentu, berpikir adalah pekerjaan yang mulia. Namun, biasanya pikiran membutuhkan bahan bakar dari perut yang kenyang. Apakah berpikir memberimu makan hari ini? Atau apakah engkau memiliki pekerjaan lain yang menghasilkan roti?

Penganggur: (Menghela napas) "Tidak, Mbah Tes. Aku tidak punya pekerjaan. Aku seorang penganggur."

Socrates: "Ah, sebuah kondisi yang menarik. Bantulah aku memahami ini. Apakah engkau menganggur karena di Athena ini sudah tidak ada lagi tugas yang perlu diselesaikan? Apakah semua jalan sudah dibangun, semua baju sudah ditenun, dan semua ladang sudah dipanen?"

Penganggur: "Tentu saja tidak. Masih banyak pekerjaan kasar di luar sana. Tapi tidak ada pekerjaan yang layak untukku."

Socrates: "Layak? Jelaskan padaku. Apakah maksudmu pekerjaan yang sesuai dengan keahlian dan jiwamu?"

Penganggur: "Tepat sekali. Aku orang berpendidikan, Mbah Tes. Aku tidak mungkin menghabiskan hariku mengangkut batu di pelabuhan seperti keledai. Itu tidak sesuai dengan diriku."

Socrates: "Jadi, masalahnya bukan "tidak ada pekerjaan", melainkan tidak ada pekerjaan yang kau sukai. Tapi katakan padaku, Argos, manakah yang lebih baik bagi seseorang: melakukan pekerjaan yang tidak ia sukai namun bisa mandiri, atau menyukai ketidakberdayaan karena menunggu kesempurnaan?"

Penganggur: "Itu bukan pilihan yang adil. Masalahnya bukan hanya jenis pekerjaannya, tapi imbalannya. Rata-rata penghasilan yang ditawarkan sangat rendah. Mereka ingin aku bekerja keras seharian tapi membayarku dengan kepingan tembaga yang hanya cukup untuk makan sekali. Itu penghinaan."

Socrates: "Hmmm. Mari kita uji ini. Jika kau ditawari sebuah pekerjaan dengan upah rendah, kau menolaknya karena itu tidak cukup. Tetapi sekarang, saat kau tidak bekerja sama sekali, berapakah upah yang kau terima?"

Penganggur: "Nol besar."

Socrates: "Jadi, menurut logikamu, menerima upah kecil adalah penghinaan, tetapi menerima nol besar—dan mungkin bergantung pada orang lain untuk makan—adalah kehormatan? Apakah kelaparan yang bermartabat lebih baik daripada perut kenyang yang didapat dari upah rendah?"

Penganggur: (Mulai gelisah) "Bukan begitu... Tapi ini juga soal harga diri, Mbah Tes! Aku tidak mau bekerja di bawah perintah orang lain. Aku melihat teman-temanku yang bekerja; mereka diperintah ke sana kemari oleh majikan yang seringkali lebih bodoh dari mereka. Aku tidak mau menghamba. Aku ingin bebas."

Socrates: "Kebebasan! Kata yang indah. Mari kita lihat kebebasanmu saat ini. Kau bilang kau tidak mau diperintah oleh majikan manusia. Tetapi, bukankah saat ini kau sedang diperintah oleh majikan lain yang lebih kejam?"

Penganggur: "Siapa majikan itu? Aku tidak melihatnya."

Socrates: "Majikan itu bernama Kebutuhan dan Ketergantungan. Saat perutmu lapar, bukankah ia memerintahmu untuk mencari makan? Jika kau tidak punya uang sendiri, bukankah kau harus meminta pada orang tuamu atau temanmu? Dan bukankah orang yang harus meminta-minta itu adalah hamba dari mereka yang memberi?"

Penganggur: (Terdiam cukup lama, wajahnya memerah) "Kau memojokkanku, orang tua."

Socrates: "Aku tidak memojokkanmu, sahabatku. Aku hanya meletakkan cermin di depan alasan-alasanmu."

Penganggur: "Baiklah! Mungkin... mungkin kau benar soal itu. Tapi masih ada sesuatu yang menahanku. Rasanya berat sekali untuk memulai."

Socrates: "Nah, sekarang kita mendekati kebenaran yang bersembunyi di balik batu. Tadi kau bilang alasannya ada di luar dirimu: pekerjaan tidak cocok, upah rendah, majikan yang buruk. Tetapi mungkinkah, dan aku bertanya ini dengan tulus, bahwa alasannya ada di dalam dirimu? Mungkinkah ada rasa enggan untuk bersusah payah? Sebuah rasa cinta yang berlebihan pada kenyamanan duduk di bawah pohon ini? Apakah mungkin, bahwa kau sebenarnya... malas?"

Penganggur: (Marah) "Berani sekali kau! Aku bukan pemalas! Aku hanya punya standar yang tinggi!"

Socrates: "Jangan marah dulu. Jika standar tinggi itu membuatmu tetap lapar dan tidak produktif, apa bedanya standar tinggi itu dengan kemalasan yang terbungkus jubah kesombongan? Bukankah orang malas seringkali adalah orang yang paling pandai menciptakan alasan cerdas mengapa mereka tidak perlu melakukan apa-apa?"

Penganggur: (Kemarahannya surut menjadi kebingungan) "Aku... aku tidak tahu harus menjawab apa, Mbah Tes. Semua alasanku tadi terasa masuk akal sebelum kau datang. Sekarang, semuanya terdengar seperti topeng."

Socrates: "Kebingungan itu bagus, kawan. Itu tanda bahwa pikiranmu mulai bekerja lagi setelah lama menganggur. Mungkin pekerjaan pertama yang paling layak untukmu saat ini bukanlah membangun jembatan atau berdagang, melainkan meruntuhkan tembok kesombongan di dalam dirimu sendiri, dan mulai menerima bahwa tangan yang kotor karena kerja lebih mulia daripada tangan yang bersih karena diam."

Agora Athena, 10 Januari 2026
Ajun Pujang Anom

09 Januari, 2026

, ,

Socrates Ketemu Seorang Wartawan

Petang ini Socrates (kita sebut Mbah Tes), ketemu seorang wartawan dan bertanya-jawab soal berita. 

Socrates: "Salam, kawan. Kulihat kau selalu berada di garis depan setiap kejadian, mencatat dengan cepat apa yang dikatakan orang-orang penting. Katakan padaku, apakah kau seorang saksi atau seorang pelukis?"

Wartawan: (Tersinggung sedikit) "Aku adalah seorang wartawan, Mbah Tes! Tugasku bukan melukis fantasi, melainkan menyampaikan fakta yang nyata kepada publik. Aku adalah mata dan telinga bagi rakyat Athena."

Socrates: "Mata dan telingamu, sungguh mulia. Tapi bantulah aku memahami: apakah mata yang kau gunakan itu benar-benar milikmu, atau kau hanya meminjamkan matamu pada orang lain untuk melihat apa yang ingin mereka lihat?"

Wartawan: "Apa maksudmu? Aku menulis apa yang kulihat dan kudengar. Itu nyata, bukan rekayasa."

Socrates: "Mari kita uji. Jika kau melihat seorang pemuda berteriak di pasar, kau mencatatnya sebagai kerusuhan.Tetapi jika kau tidak mencatat bahwa pemuda itu baru saja dirampok, apakah beritamu masih nyata? Ataukah kau sedang merekayasa sebuah kemarahan tanpa sebab?"

Wartawan: "Tentu aku harus mencatat konteksnya. Tapi terkadang ruang di papirusku terbatas, Mbah Tes. Aku harus memilih mana yang paling menarik."

Socrates: "Ah, menarik. Jadi, kau bukan menyajikan seluruh kebenaran, melainkan potongan-potongan yang menurutmu akan laku? Jika demikian, apakah kau masih bisa disebut pembawa berita yang asli, atau kau hanyalah seorang penghibur yang menggunakan fakta sebagai kostumnya?"

Wartawan: (Mulai gelisah) "Aku tetap wartawan asli selama apa yang kutulis memang terjadi. Lagipula, aku bekerja untuk sebuah lembaga berita besar. Mereka yang membiayai perjalananku dan papirusku."

Socrates: "Nah, di sinilah letak teka-tekinya. Katakan padaku, jika lembaga beritamu dimiliki oleh seorang pedagang kaya yang sangat membenci pemerintah, apakah kau akan tetap berani menulis bahwa kebijakan pemerintah itu menguntungkan rakyat kecil?"

Wartawan: "Aku... aku harus mengikuti garis kebijakan pemilik modal. Bagaimanapun, mereka yang memberiku makan."

Socrates: "Berarti, jika kau harus memilih antara kejujuran yang pahit atau pesanan yang manis dari tuanmu, manakah yang akan kau tulis di papirus itu? Apakah kau berpihak pada kebenaran yang tidak punya uang, atau pada penguasa yang punya peti emas?"

Wartawan: "Aku mencoba untuk adil, Mbah Tes. Tapi di dunia nyata, tidak ada yang benar-benar bebas."

Socrates: "Jika kau tidak bebas, bukankah kau hanyalah corong suara orang lain? Jika tulisanmu adalah pesanan, bukankah itu berarti kau bukan pembawa berita, melainkan pembawa propaganda?"

Wartawan: "Tapi rakyat butuh informasi!"

Socrates: "Rakyat butuh kebenaran, bukan sekadar informasi yang sudah dibumbui. Katakan padaku, kawan, mana yang lebih berbahaya bagi sebuah negara: rakyat yang tidak tahu apa-apa, atau rakyat yang percaya pada kebohongan yang kau bungkus dengan label berita?"

Wartawan: (Terdiam, menatap gulungan papirusnya yang kosong) "Kau membuatku merasa seperti seorang pengkhianat bagi profesiku sendiri."

Socrates: "Jangan bersedih, kawan. Mungkin ini saatnya kau bertanya pada dirimu sendiri setiap kali hendak menulis, 'Apakah aku sedang memberikan cahaya bagi rakyat, atau aku sedang membangun bayangan untuk menyembunyikan sesuatu?' Karena martabat seorang wartawan bukan terletak pada seberapa banyak orang yang membaca tulisannya, melainkan pada seberapa berani ia berdiri tegak demi kebenaran, meskipun pemilik modal dan penguasa mencoba membengkokkan penanya."

Agora Athena, 8 Januari 2026
Ajun Pujang Anom

07 Januari, 2026

, ,

Socrates Ketemu Seorang Ibu Rumah Tangga


Pagi ini Socrates (kita sebut Mbah Tes), ketemu seorang ibu rumah tangga dan bertanya-jawab soal kebutuhan hidup. 

Socrates: (Berdiri tegak di samping seorang ibu) "Mengapa kau menatap koin-koin itu seolah-olah mereka adalah musuh yang baru saja mengkhianatimu di medan perang?"

Ibu Rumah Tangga: (Kaget, menoleh dengan ketus) "O, Mbah Tes! Kau berdiri di situ seperti patung marmer. Koin-koin ini memang pengkhianat! Lihatlah, jumlahnya tetap sama sejak tahun lalu, tapi kantong gandum ini menyusut ukurannya. Suamiku bekerja seperti keledai, tapi upahnya tak pernah naik barang sepeser pun!"

Socrates: "Sungguh sebuah teka-teki. Katakan padaku, manakah yang lebih berat: beban gandum yang harganya naik di pundakmu, atau beban pikiran tentang upah suamimu yang diam di tempat?"

Ibu Rumah Tangga: "Dua-duanya berat! Tapi yang lebih menyesakkan adalah saat aku pulang nanti. Anak-anak sudah menunggu seperti burung pipit yang lapar. Yang kecil minta manisan madu, yang tengah minta mainan kereta kayu, dan si sulung—bayangkan!—dia sudah minta kawin! Padahal untuk beli minyak zaitun saja aku harus memeras keringat."

Socrates: (Mengelus janggutnya) "Mari kita telusuri satu hal. Mengenai anak-anakmu yang rewel itu; apakah menurutmu mereka merengek karena mereka benar-benar butuh mainan dan pernikahan, atau karena mereka melihat jiwamu yang gelisah sehingga mereka ikut merasa tidak tenang?"

​Ibu Rumah Tangga: "Jangan bicara filsafat padaku sekarang, Mbah Tes! Mereka merengek karena mereka ingin! Dunia ini kejam, barang-barang makin mahal, dan kebutuhan mereka tidak ada habisnya."

Socrates: "Jika aku memberimu sekarung emas sekarang, apakah anakmu akan berhenti meminta? Ataukah besok dia akan meminta kereta kuda sungguhan dan pernikahan yang lebih megah dari pesta Pericles?"

Ibu Rumah Tangga: "Yah... mungkin saja dia akan minta lebih. Anak-anak memang tak pernah puas."

Socrates: "Kalau begitu, apakah masalahnya ada pada harga barang yang melangit, atau pada keinginan yang tidak memiliki atap? Jika kau tak bisa menurunkan harga gandum, bukankah lebih mudah melatih anak-anakmu untuk memiliki jiwa yang kuat terhadap keinginan?"

Ibu Rumah Tangga: "Lalu bagaimana dengan si sulung yang minta kawin itu? Dia belum punya rumah, belum punya tabungan, tapi sudah mau memboyong istri!"

Socrates: "Katakan padanya, pernikahan bukan sekadar menyatukan dua raga dalam satu atap yang mahal, tapi menyatukan dua pikiran untuk mencari kebenaran. Jika dia bisa memberi makan istrinya dengan kebijaksanaan saat gandum sedang mahal, maka dia siap menikah. Jika tidak, suruh dia belajar berpuasa dulu bersamaku."

Ibu Rumah Tangga: (Tersenyum getir) "Berpuasa bersamamu artinya kami semua akan mati kelaparan sambil berdiskusi! Tapi... kau benar soal satu hal. Kekhawatiranku tidak membuat harga gandum turun."

Socrates: "Tepat. Harga barang ada di tangan para pedagang, tapi kedamaian hatimu ada di tanganmu sendiri. Jadi, apakah kau akan pulang sebagai budak dari koin-koin ini, atau sebagai ratu atas keinginanmu sendiri?"

Ibu Rumah Tangga: (Memasukkan koinnya ke saku dengan mantap) "Aku akan pulang sebagai ibu yang galak, Mbah Tes! Anak-anak akan kuberitahu: tidak ada mainan, tidak ada kawin sebelum kalian bisa membedakan mana butuh dan mana ingin seperti kamu, kakek tua botak!"

Socrates: (Tertawa) "Nah, itu baru namanya pendidikan yang mulia!"


Agora Athena, 7 Januari 2026
Ajun Pujang Anom

06 Januari, 2026

, ,

Socrates Ketemu Seorang Bujangan


Sore ini Socrates (kita sebut Mbah Tes), ketemu seorang bujangan dan bertanya-jawab soal asmara. 

Socrates: (Menyapa dengan lembut) "Salam, anak muda. Kulihat awan mendung menggelayuti wajahmu, padahal matahari bersinar terang. Apakah ada kesedihan yang memenuhi hatimu?"

Bujangan: (Menghela napas lagi) "Salam, Mbah Tes. Tidak ada kesedihan yang berarti, hanya... aku sendiri."

Socrates: "Sendiri? Apakah maksudmu kau tidak memiliki teman? Aku melihatmu sering berbicara dengan orang lain di sini."

Bujangan: "Bukan teman, Mbah Tes. Maksudku, aku tidak punya pasangan. Aku seorang jomblo."

Socrates: "Ah,"jomblo. Sebuah kata yang baru bagiku. Apakah itu berarti kau adalah orang yang terpisah dari seekor kuda? Atau terpisah dari sebuah rumah?"

Bujangan: (Tersenyum getir) "Itu berarti aku tidak punya kekasih, Mbah Tes. Tidak ada yang mencintaiku, atau setidaknya, tidak ada yang mau bersamaku."

Socrates: "Menarik. Apakah kau baru saja kehilangan kekasihmu? Apakah ada seseorang yang memutuskannya darimu, seperti sehelai daun yang putus dari rantingnya?"

Bujangan: (Wajahnya semakin murung) "Ya, beberapa waktu lalu. Dia pergi mencari yang lain."

Socrates: "Jika begitu, bukankah kesedihanmu itu wajar? Seperti luka yang baru mengering. Tapi, apakah luka itu yang membuatmu menjadi jomblo sekarang, atau ada hal lain yang kau sembunyikan?"

Bujangan: "Entahlah. Kadang aku merasa seperti... aku tidak laku. Semua temanku sudah punya pasangan, aku saja yang sendiri. Sepertinya tidak ada yang tertarik padaku."

Socrates: "Tidak laku? Apakah kau ini sebuah barang dagangan di pasar, yang harus ditawarkan agar ada yang membeli? Bukankah manusia itu mencari kecocokan jiwa, bukan sekadar harga? Dan, apa yang sudah kau tawarkan dari dirimu sendiri?"

Bujangan: "Aku sudah mencoba, Mbah Tes. Aku sudah berusaha menarik perhatian, tapi selalu gagal. Mungkin aku memang tidak punya pesona."

Socrates: "Pesona? Bukankah pesona sejati itu terpancar dari hati yang tulus dan pikiran yang bijaksana? Atau apakah kau hanya mencoba meniru pesona orang lain, sehingga pesonamu sendiri tertutup?"

Bujangan: (Mulai sedikit berpikir) "Aku juga sering berpikir, mungkin aku terlalu pilih-pilih. Aku punya standar yang tinggi. Aku ingin seseorang yang sempurna."

Socrates: "Sempurna? Katakan padaku, anak muda, apakah kau sendiri sempurna?"

Bujangan: "Tentu saja tidak, Mbah Tes. Aku punya banyak kekurangan."

Socrates: "Jika kau sendiri tidak sempurna, dan kau mencari yang sempurna, bukankah kau sedang mencari sesuatu yang mustahil? Dan jika kau menemukan yang sempurna, apakah ia akan mau dengan yang tidak sempurna sepertimu?"

Bujangan: (Malu) "Kau benar. Itu terdengar bodoh."

Socrates: Jadi, mungkinkah kesendirianmu ini bukan karena tidak laku atau diputusin, tetapi karena harapanmu sendiri yang tidak realistis, atau mungkin karena kau tidak berani melihat kekuranganmu sendiri dan justru mencari kesempurnaan di luar?"

Bujangan: (Menghela napas lagi, tapi kali ini lebih ringan) "Mungkin. Aku selalu berpikir bahwa aku harus menemukan seseorang yang akan melengkapi kekuranganku, atau yang akan membuat hidupku sempurna."

Socrates: "Ah, disitulah letak kekeliruanmu, anak muda. Cinta sejati bukanlah mencari yang sempurna, melainkan mencintai ketidaksempurnaan. Dan bukankah kebahagiaan sejati itu datang dari dalam dirimu sendiri, bukan dari kehadiran orang lain? Jika kau tidak bahagia saat sendiri, mungkinkah kau akan bisa bahagia sepenuhnya dengan orang lain?"

Bujangan: "Jadi, kau bilang aku harus bahagia sendiri dulu, sebelum mencari pasangan?"

Socrates: "Bukan hanya itu, anak muda. Kau harus mengenal dirimu sendiri terlebih dahulu, dengan segala kelemahan dan kekuatanmu. Bukankah sulit bagi orang lain untuk mencintai dirimu jika kau sendiri belum mengenal dan mencintai dirimu? Mungkin kesendirianmu saat ini adalah sebuah kesempatan, bukan kutukan. Kesempatan untuk menjelajahi dirimu, untuk mencari kebijaksanaan, dan untuk menemukan pesona sejatimu yang mungkin selama ini tertutup oleh ketakutan dan harapan yang keliru."

Bujangan: (Mengangguk perlahan) "Aku tidak pernah melihatnya dari sudut pandang itu. Aku selalu merasa kesepian itu adalah sebuah kegagalan. Tapi kau membuatku berpikir, mungkin ini adalah sebuah perjalanan."

Agora Athena, 6 Januari 2026
Ajun Pujang Anom

05 Januari, 2026

, ,

Socrates Ketemu Seorang Pejabat


Siang ini Socrates (kita sebut Mbah Tes), ketemu seorang pejabat dan bertanya-jawab soal pemerintahan. 

Socrates: (Menyapa dengan ramah) "Salam, wahai kawan yang tampak sibuk. Gerangan apa yang membuatmu begitu tergesa dengan gulungan-gulungan itu? Apakah kau sedang membawa beban kebijaksanaan negara?"

Pejabat: (Terkejut dan sedikit kesal karena interupsi) "Salam, orang tua. Aku adalah seorang pejabat yang mengurus pemerintahan. Aku sedang memastikan bahwa pemerintahan kita berjalan dengan baik dan bersih, sesuai dengan kaidah pemerintahan yang baik dan pemerintah yang bersih."

Socrates: (Mengernyitkan dahi) "Kata-kata yang terdengar mulia. Namun, tolong jelaskan padaku, apa itu pemerintahan yang baik? Apakah itu semacam masakan lezat yang bisa dinikmati semua warga? Dan pemerintah yang bersih? Apakah itu pemerintahan yang mandi setiap hari sehingga tidak ada kotoran yang menempel?"

Pejabat: (Mencoba bersabar) "Bukan begitu, Mbah Tes. Pemerintahan yang baik berarti pemerintahan yang transparan, bertanggung jawab, partisipatif, dan efektif dalam melayani rakyat. Pemerintah yang bersih berarti pemerintahan yang bebas dari korupsi, penipuan, dan penyalahgunaan kekuasaan."

Socrates: "Aha! Transparan, bertanggung jawab, partisipatif... seperti sebuah bejana tembus pandang yang bisa dilihat isinya oleh semua orang, dan jika ada yang tumpah, pemiliknya langsung mengambil tanggung jawab?"

Pejabat: "Ya, kira-kira begitu. Rakyat berhak tahu apa yang dilakukan pemerintah."

Socrates: "Lalu, jika pemerintah itu transparan, tetapi rakyat tidak peduli untuk melihatnya, atau bahkan tidak mengerti apa yang mereka lihat, apakah itu masih bisa disebut pemerintahan yang baik? Bukankah itu seperti menaruh cermin di hadapan orang buta?"

Pejabat: (Mulai berpikir) "Hmm, partisipasi rakyat memang penting agar mereka ikut mengawasi dan memberikan masukan."

Socrates: "Dan mengenai pemerintah yang bersih, bebas dari korupsi. Katakan padaku, kawan, apa itu korupsi? Apakah itu hanya mencuri uang? Atau apakah itu juga mencuri kepercayaan rakyat dengan janji-janji kosong? Atau mungkin mencuri kebenaran dengan menyembunyikan fakta?"

Pejabat: "Korupsi itu adalah penyalahgunaan jabatan untuk kepentingan pribadi atau kelompok, yang merugikan publik. Itu kejahatan!"

Socrates: "Baiklah. Jika seorang pejabat membuat sebuah keputusan yang secara hukum sah, tetapi keputusan itu menguntungkan teman-temannya secara berlebihan, dan merugikan sebagian kecil rakyat yang tidak punya suara, apakah itu masih bersih di matamu, hanya karena tidak ada uang yang dicuri?"

Pejabat: (Diam sejenak) "Itu... itu adalah area abu-abu, Mbah Tes. Sering disebut konflik kepentingan."

Socrates: "Jadi, pemerintah yang bersih tidak hanya tentang tidak mencuri uang, melainkan juga tentang tidak mencuri keadilan dan kesetaraan? Dan pemerintahan yang baik tidak hanya tentang membuat aturan yang baik, tetapi juga tentang menumbuhkan warga negara yang peduli dan bijaksana agar mau berpartisipasi dan mengawasi?"

Pejabat: "Kau membuat ini lebih kompleks dari yang kupikirkan. Kami mencoba menerapkan sistem agar semuanya berjalan otomatis."

Socrates: "Sistem, kawan, hanyalah alat. Bukankah sebuah pemerintahan yang baik dan bersih itu pada dasarnya bermula dari hati dan pikiran orang-orang yang menjalankannya? Jika hati itu serakah, dan pikiran itu dangkal, sehebat apapun sistemnya, bukankah ia akan tetap kotor? Dan jika rakyatnya tidak punya kebajikan, apakah mereka akan memilih pemimpin yang bersih dan bijaksana?"

Pejabat: (Meletakkan gulungan-perkamennya) "Kau benar, Mbah Tes. Kami sering terlalu fokus pada aturan dan prosedur, dan melupakan bahwa fondasi dari pemerintahan yang baik dan pemerintah yang bersih yang sejati adalah kebajikan dan integritas dalam setiap warga negara, dari yang paling bawah hingga yang paling atas. Tanpa itu, semua aturan dan sistem hanyalah topeng."

Socrates: "Nah! Mungkin tugas kita bukanlah hanya membuat aturan yang sempurna, melainkan menanamkan kebajikan dan cinta akan keadilan di dalam jiwa setiap warga negara, termasuk para pejabat seperti dirimu. Bukankah itu pekerjaan yang lebih mulia dan abadi?"

Agora Athena, 5 Januari 2026
Ajun Pujang Anom

04 Januari, 2026

, ,

Socrates Ketemu Seorang Anak Kecil


Pagi ini Socrates (kita sebut Mbah Tes), ketemu seorang anak kecil dan bertanya-jawab soal bermain. 

Socrates: "Hai anak kecil, aku perhatikan kau begitu tekun dengan batu-batu itu. Apakah kau sedang menjalankan perintah dari rajamu untuk membangun bendungan yang kokoh?"

Anak Kecil: (Tertawa) "Tidak, Mbah Tes. Aku tidak punya raja. Aku cuma sedang bermain."

Socrates: "Bermain? Bantu aku memahaminya. Apakah bermain itu adalah sebuah pekerjaan yang melelahkan? Kulihat keringat menetes di dahimu."

Anak Kecil: "Capek sih, Mbah Tes. Tapi ini bukan kerja. Kalau kerja itu kan karena disuruh ibu atau guru. Kalau ini, aku sendiri yang mau."

Socrates: "Oh! Jadi perbedaannya ada pada siapa yang memerintah? Jika kau melakukan hal yang sama karena disuruh, itu disebut kerja. Namun jika kau melakukannya karena keinginanmu sendiri, itu disebut bermain?"

Anak Kecil: "Mungkin begitu. Dan lagi, kalau main itu tidak harus jadi apa-apa. Nanti kalau aku pulang, bendungan ini pasti hancur kena air sungai. Tapi aku tidak sedih."

Socrates: "Ini sungguh aneh. Kau membuang tenaga untuk sesuatu yang kau tahu akan hancur? Bukankah itu perbuatan yang sia-sia? Orang dewasa membangun rumah agar mereka bisa tidur di dalamnya. Apa yang kau dapatkan dari bendungan yang akan hancur ini?"

Anak Kecil: "Aku dapat "serunya", Mbah Tes! Saat aku mencoba menaruh batu agar airnya tidak lewat, aku harus berpikir. Itu yang asyik."

Socrates: "Menarik sekali. Jadi, bermain bukanlah tentang "hasil akhir" seperti bangunan yang permanen, melainkan tentang "proses" saat kau melakukannya? Kau sedang menguji duniamu, bukan?"

Anak Kecil: "Iya! Aku ingin tahu, kalau batunya kecil, airnya lewat tidak? Kalau batunya besar, bagaimana?"

Socrates: "Kalau begitu, bolehkah aku mengatakan bahwa bermain adalah cara seorang manusia belajar tanpa rasa takut akan kegagalan? Karena bagimu, bendungan yang hancur bukanlah kekalahan, melainkan hanya akhir dari sebuah cerita?"

Anak Kecil: (Mengangguk-angguk) "Betul, Mbah Tes. Tidak ada yang marah kalau bendunganku rusak. Aku cuma tinggal buat lagi yang baru."

Socrates: "Wahai kawan kecil, kau baru saja mengajariku sesuatu yang besar. Mungkin kami, orang-orang tua yang merasa bijaksana ini, sebenarnya sedang iri padamu. Kami terlalu sibuk memikirkan "hasil" dan "kegunaan" sehingga kami lupa bagaimana rasanya mencintai proses hanya karena proses itu sendiri. Jadi, mungkinkah bermain adalah bentuk pendidikan yang paling murni? Di mana jiwamu bebas mencoba, gagal, dan mencoba lagi tanpa beban?"

Anak Kecil: "Entahlah Mbah Tes, aku tidak mengerti kata-kata rumit itu. Aku cuma tahu kalau aku berhenti main, aku tidak akan tahu cara menahan air sungai ini. Kakek mau ikut bantu taruh batu?"

Socrates: (Tersenyum) "Tentu. Mari kita "belajar" menahan air sungai ini bersama-sama."

Sungai Eridanos Athena, 4 Januari 2026
Ajun Pujang Anom

03 Januari, 2026

, ,

Socrates Ketemu Seorang Guru


Siang ini Socrates (kita sebut Mbah Tes), ketemu seorang guru dan bertanya-jawab soal nilai atau skor. 

Socrates: (Melihat seorang guru yang sedang memeriksa tumpukan lembar kertas ujian) "Salam, wahai kawan pendidik. Apa gerangan yang sedang kau lakukan dengan begitu seriusnya?"

Guru: "Salam, Mbah Tes. Aku sedang menilai pekerjaan murid-muridku. Ini adalah bagian penting dari pekerjaanku: memberikan skor atau nilai pada usaha mereka."

Socrates: "Nilai? Skor? Jelaskanlah padaku yang buta pengetahuan ini, apa itu "nilai" dan apa gunanya? Apakah itu semacam ramuan ajaib yang membuat mereka lebih bijaksana?"

Guru: "Nilai adalah ukuran. Ia menunjukkan seberapa baik seorang murid memahami materi pelajaran. Ia mengukur pengetahuan mereka, kerja keras mereka, dan kemampuan mereka. Dengan nilai ini, kami tahu siapa yang berhasil dan siapa yang perlu bantuan lebih."

Socrates: "Menarik. Jadi, nilai itu seperti timbangan untuk jiwa dan pikiran? Apakah angka-angka itu benar-benar menunjukkan seberapa "tahu" seseorang?"

Guru: "Tentu saja. Seorang murid yang mendapat nilai sempurna, misalnya, berarti ia menguasai materinya dengan baik. Ia pantas dihargai."

Socrates: "Hmmm. Mari kita bayangkan dua orang murid. Murid pertama menghabiskan waktu berjam-jam mempelajari sesuatu yang ia benci, hanya untuk mendapatkan nilai sempurna. Ia menghafal setiap kata, namun tidak mencintai prosesnya, dan mungkin melupakannya seminggu kemudian. Murid kedua mencintai pelajaran tersebut, menyelaminya, berdebat dengannya, namun karena ia sering melamun dan salah dalam beberapa detail, ia mendapat nilai pas-pasan. Manakah yang menurutmu lebih "tahu"?"

Guru: (Terpikir sejenak) "Secara angka, murid pertama. Tapi secara pemahaman... mungkin yang kedua."

Socrates: "Jadi, nilai itu tidak selalu menunjukkan pemahaman sejati? Bukankah itu berarti nilai terkadang menipu kita? Apakah nilai itu mengukur cinta seseorang pada ilmu, atau hanya kepatuhan pada aturan?"

Guru: "Itu pertanyaan yang sulit. Kami berharap nilai mendorong mereka untuk belajar. Nilai juga memotivasi. Murid ingin mendapat nilai bagus."

Socrates: "Motivasi? Apakah motivasi untuk mendapat angka yang tinggi sama dengan motivasi untuk mencari kebenaran? Bukankah terkadang, demi angka itu, seseorang akan berusaha "terlihat pintar" alih-alih "menjadi pintar"? Ia mungkin menyontek, atau sekadar menghafal tanpa mengerti esensinya."

Guru: "Memang ada risiko itu, Mbah Tes. Namun tanpa nilai, bagaimana kami bisa membedakan mana yang serius dan mana yang tidak? Bagaimana orang tua tahu sejauh mana perkembangan anaknya?"

Socrates: "Perbedaan? Bukankah perbedaan sejati itu tampak dalam dialog, dalam pertanyaan yang diajukan, dalam kegigihan mencari jawaban, bukan dalam selembar angka? Bukankah orang tua akan lebih tahu anaknya jika mereka sering berbicara, bukan sekadar melihat rapor? Katakan padaku, wahai Guru. Jika kita mengatakan pada seorang anak bahwa nilainya "buruk", apakah itu membuatnya ingin belajar lebih, atau justru membuatnya merasa bodoh dan putus asa? Bukankah angka itu bisa menjadi dinding yang menghalangi seorang anak untuk mencintai ilmu, karena ia takut akan penghakiman?"

Guru: (Menghela napas) "Kami tidak bermaksud begitu. Nilai adalah cara yang praktis di dunia modern ini untuk mengukur kemajuan dan mempersiapkan mereka untuk masa depan."

Socrates: "Masa depan? Apakah masa depan yang baik itu dibangun di atas deretan angka, atau di atas jiwa yang mencintai kebijaksanaan dan berani bertanya? Bukankah nilai itu hanya bayangan dari sebuah benda, bukan benda itu sendiri? Dan terkadang, bayangan itu bisa menipu mata kita tentang ukuran dan bentuk aslinya. Mungkin fungsi sejati nilai bukanlah untuk mengukur, melainkan untuk memulai sebuah percakapan?"

Guru: (Menutup tumpukan lembar kertas ujian perlahan) "Percakapan... Aku belum pernah memikirkannya seperti itu. Bukan sebagai penentu akhir, tapi sebagai pembuka diskusi tentang di mana seorang anak berdiri, dan bagaimana kita bisa membantunya melangkah lebih jauh, terlepas dari angka itu."

Agora Athena, 3 Januari 2026
Ajun Pujang Anom

02 Januari, 2026

, ,

Socrates Ketemu Seorang Pengarang


Sore ini Socrates (kita sebut Mbah Tes), ketemu seorang pengarang dan bertanya-jawab soal menulis. 

Socrates: "Wahai kawan, aku melihatmu begitu asyik menggerakkan jemarimu di atas lembaran papirus itu. Katakan padaku, apa sebenarnya yang sedang kau lakukan?"

Pengarang: "Aku sedang menulis, Mbah Tes. Aku sedang mengabadikan pikiran agar tidak hilang ditelan waktu."

Socrates: "Menulis? Sungguh luar biasa. Tapi bantulah aku yang bodoh ini untuk mengerti: apakah menulis itu berarti kau sedang memindahkan isi kepalamu ke dalam benda mati itu?"

Pengarang: "Bisa dikatakan begitu. Menulis adalah cara kita menyampaikan kebenaran kepada orang lain, bahkan kepada mereka yang belum lahir. Itulah manfaat terbesarnya: keabadian ilmu."

Socrates: "Jawaban yang indah. Namun, izinkan aku bertanya satu hal. Jika aku bertanya pada tulisanmu ini tentang "mengapa" ia mengatakan demikian, apakah ia akan menjawabku?"

Pengarang: "Tentu saja tidak, Mbah Tes. Ia tetap diam. Kau harus membacanya lagi untuk memahaminya."

Socrates: "Jadi, tulisan itu seperti lukisan? Ia tampak hidup, tetapi jika ditanya, ia tetap bungkam?"

Pengarang: "Ya, memang begitu sifatnya."

Socrates: "Kalau begitu, bukankah menulis memiliki bahaya? Jika seseorang yang tidak paham membaca tulisanmu dan salah mengerti, apakah tulisan itu bisa membela dirinya sendiri? Apakah ia bisa menjelaskan maksudnya kepada si pembaca yang keliru itu?"

Pengarang: (Mulai ragu) "Tidak, ia tidak bisa membela diri. Penulisnya lah yang harus melakukannya."

Socrates: "Maka, jika penulisnya sudah tiada, bukankah tulisan itu menjadi yatim piatu yang bisa disalahgunakan oleh siapa saja? Dan katakan padaku kawan, apakah dengan menulis, manusia akan menjadi lebih ingat, atau justru menjadi lebih pelupa?"

Pengarang: "Tentu saja lebih ingat, Mbah Tes! Karena semuanya sudah tercatat."

Socrates: "Benarkah? Ataukah mereka justru berhenti melatih ingatan mereka karena merasa "pengetahuan" itu sudah ada di luar kepala mereka, di atas kertas itu? Bukankah itu hanya memberikan penampakan kebijaksanaan, dan bukan kebijaksanaan yang sesungguhnya di dalam jiwa?"

Pengarang: (Terpaku sejenak) "Kau membuat menulis tampak seperti racun bagi ingatan. Lalu, apakah menurutmu menulis itu sama sekali tidak bermanfaat?"

Socrates: "Aku tidak mengatakan itu. Namun, mungkin menulis bermanfaat bukan untuk "menyimpan" kebenaran, melainkan sebagai cermin. Dengan menulis, kau dipaksa melihat pikiranmu sendiri yang kacau menjadi tersusun. Bukankah begitu?"

Pengarang: "Benar! Saat aku menulis, aku baru sadar betapa banyak lubang dalam pikiranku yang harus aku tambal."

Socrates: "Nah! Jadi, mungkinkah manfaat menulis yang sejati bukanlah untuk mengajari orang lain (karena hanya dialektika hidup yang bisa mengajar), melainkan untuk menguji diri sendiri? Menulis adalah cara kita berbicara dengan diri kita yang paling jujur di atas kertas?"

Pengarang: "Aku tidak pernah memandangnya seperti itu, Mbah Tes. Menulis ternyata bukan tentang menjadi abadi, melainkan tentang menjadi sadar akan pikiran sendiri."

Agora Athena, 2 Januari 2026

Ajun Pujang Anom